Surabaya (beritajatim.id) – Antusiasme masyarakat menghadiri riyayan Idulfitri 1447 Hijriah di kediaman Khofifah Indar Parawansa tidak surut hingga hari terakhir pelaksanaan, Senin (23/3/2026). Sejak pagi, ribuan warga telah memadati kawasan Jemursari, Surabaya, untuk bersilaturahmi langsung dengan Gubernur Jawa Timur tersebut.
Kehadiran masyarakat dari berbagai lapisan menunjukkan kuatnya tradisi kebersamaan saat Lebaran. Warga terlihat tertib mengantre untuk bersalaman, bahkan banyak yang datang bersama keluarga, termasuk anak-anak yang turut meramaikan suasana dengan penampilan sederhana di tengah kerumunan.
Dengan pendekatan yang hangat, Khofifah menyapa warga satu per satu dan melayani permintaan swafoto. Interaksi tersebut menjadi simbol kedekatan antara pemimpin daerah dan masyarakatnya, sekaligus memperkuat hubungan emosional yang terbangun dalam momentum Hari Raya Idulfitri.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menyampaikan apresiasi atas kehadiran masyarakat yang tetap antusias hingga hari terakhir riyayan. Ia menekankan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari fondasi sosial dalam membangun Jawa Timur yang lebih sejahtera.
Selain menjadi ajang temu langsung, kegiatan ini juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil. Berbagai hidangan yang disajikan berasal dari pelaku UMKM dan pedagang kaki lima di sekitar Jemursari, mulai dari soto ayam, tahu campur, bakso, mi ayam hingga nasi goreng. Kehadiran warga secara tidak langsung turut menggerakkan roda ekonomi lokal.
Khofifah menilai tradisi riyayan di kediamannya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang mempererat persaudaraan dan memperkuat semangat gotong royong antara pemerintah dan masyarakat. Ia juga menegaskan pentingnya membangun komunikasi langsung sebagai upaya menjaga kepercayaan publik.
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Warga tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga merasakan kedekatan langsung dengan pemimpinnya dalam suasana yang santai dan terbuka.
Salah satu warga, Andiah, mengaku baru pertama kali menghadiri riyayan di kediaman Gubernur Jawa Timur. Ia datang bersama tetangganya setelah kembali dari kampung halaman. Pengalaman tersebut menurutnya menjadi momen berharga yang ingin diulang di masa mendatang.
Hal serupa disampaikan Ida, warga Tambaksari, yang datang bersama keluarga. Ia mengaku sengaja menyempatkan hadir setelah mudik, dan merasa senang bisa bertemu langsung dengan gubernur serta merasakan suasana Lebaran yang berbeda.
Tradisi riyayan ini diharapkan terus berlanjut sebagai wadah mempererat hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Di tengah tingginya mobilitas masyarakat pasca-mudik, kegiatan ini juga menjadi simbol kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong yang terus dijaga di Jawa Timur. (rio)


as a preferred source on Google




