Buleleng (beritajatim.id) – Dalam ajaran Hindu, tindakan ulah pati atau bunuh diri dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai spiritual dan prinsip dasar agama. Hal ini ditegaskan oleh Kadek Satria, Penyuluh Agama Hindu dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan bagian dari siklus reinkarnasi yang bertujuan untuk menyucikan atma (roh manusia) melalui subha karma atau perbuatan baik.
“Dunia ini adalah tempat penyucian. Melalui perbuatan baik, manusia membersihkan atma-nya dan menghindari asubha karma atau perbuatan buruk,” ujar Kadek, Sabtu (5/4).
Ulah Pati dan Perjalanan Atma
Kadek mengutip isi Bhagavad-Gita, yang menjelaskan bahwa terdapat dua jalur perjalanan atma setelah kematian: Uttarayana (jalur terang) bagi mereka yang hidup dengan kebaikan, dan Daksinayana (jalur kegelapan) bagi mereka yang terikat pada duniawi dan karma buruk.
Dalam kasus ulah pati, disebutkan bahwa roh orang yang bunuh diri akan terperangkap dalam alam kegelapan selama 60 ribu tahun, sebagaimana tertulis dalam Kitab Parasara Dharmasastra.
Sementara itu, Lontar Yama Purwa Tattwa Atma menyebutkan bahwa jenazah korban bunuh diri harus dikuburkan terlebih dahulu dan prosesi ngaben (pembakaran jenazah) baru dapat dilakukan setelah lima tahun.
Ulah Pati Menambah Penderitaan, Bukan Mengakhirinya
Menurut Kadek Satria, bunuh diri bukanlah solusi untuk mengatasi permasalahan hidup. Justru sebaliknya, tindakan ini akan memperpanjang penderitaan, baik bagi pelaku maupun keluarga yang ditinggalkan.
“Ulah pati bukanlah jalan keluar, melainkan sumber penderitaan baru, baik secara spiritual maupun emosional bagi orang terdekat,” tegasnya.
Kadek mendorong masyarakat untuk memahami bahwa setiap kehidupan adalah kesempatan berharga untuk memperbaiki diri dan memperkuat karma baik. Dalam menghadapi kesulitan hidup, mencari bantuan, dukungan sosial, atau pendampingan spiritual jauh lebih bijak dan konstruktif.
Kehidupan Adalah Jalan Menuju Pembebasan
Dalam keyakinan Hindu, kehidupan adalah sarana menuju pembebasan (moksha). Oleh karena itu, tindakan mengakhiri hidup secara sengaja bertentangan dengan tujuan utama kelahiran manusia di dunia.
Kadek mengajak masyarakat, terutama umat Hindu, untuk terus memperkuat kesadaran spiritual dan tidak ragu mencari pertolongan jika menghadapi tekanan hidup. “Setiap masalah pasti ada jalan keluar yang lebih baik tanpa harus mengorbankan kehidupan,” pungkasnya. (ted)


as a preferred source on Google




