Surabaya (beritajatim.id) – Departemen Bahasa dan Sastra Jepang di Universitas Airlangga (UNAIR) memperingati usia ke-20 tahun dengan menggelar kuliah tamu yang membahas diplomasi internasional dan hubungan Indonesia–Jepang.
Kegiatan edukatif tersebut berlangsung di Ruang WS Rendra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Kampus Dharmawangsa-B pada Jumat (6/3/2026) dengan menghadirkan diplomat dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Dhanang Rachmanda Fitri, sebagai pembicara utama.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan dua dekade berdirinya program studi Sastra Jepang UNAIR sekaligus wadah bagi mahasiswa untuk memahami peluang karier di bidang diplomasi.
Hubungan Indonesia–Jepang yang Terjalin Sejak 1968
Dalam pemaparannya, Dhanang menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang telah berkembang secara signifikan sejak akhir 1960-an. Kerja sama kedua negara tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi, tetapi juga mencakup pembangunan industri, pengembangan infrastruktur, serta kolaborasi ketenagakerjaan.
Menurutnya, hubungan yang terbangun selama puluhan tahun tersebut memberi kontribusi besar terhadap pembangunan nasional Indonesia. Kolaborasi strategis antara kedua negara juga dinilai sebagai salah satu contoh kemitraan internasional yang saling menguntungkan.
Dhanang menegaskan bahwa keberhasilan hubungan bilateral tersebut tidak terlepas dari komunikasi diplomatik yang efektif dan pemahaman lintas budaya yang kuat.
Lulusan Sastra Dinilai Punya Peran Penting dalam Diplomasi
Dalam kesempatan tersebut, Dhanang menyoroti peran penting lulusan sastra, khususnya yang memiliki kemampuan bahasa asing dan pemahaman budaya.
Ia menjelaskan bahwa diplomasi modern tidak hanya membutuhkan kemampuan negosiasi politik, tetapi juga keterampilan komunikasi yang sensitif terhadap konteks budaya negara mitra. Kemampuan memahami konteks bahasa, termasuk dalam bahasa Jepang yang dikenal sangat bergantung pada situasi dan hubungan sosial, menjadi nilai tambah bagi lulusan sastra.
Menurutnya, lulusan bidang bahasa memiliki keunggulan dalam menyesuaikan gaya komunikasi ketika berinteraksi dengan perwakilan negara lain.
Tugas Diplomat Tidak Hanya Negosiasi Politik
Dhanang juga menjelaskan bahwa tugas diplomat di luar negeri tidak sebatas menjalankan komunikasi politik antarnegara. Peran mereka juga mencakup penyampaian pesan strategis dari pemerintah Indonesia kepada mitra internasional serta menjembatani kerja sama antarinstansi.
Selain itu, diplomat juga bertanggung jawab mempromosikan budaya Indonesia di luar negeri serta memberikan perlindungan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di negara akreditasi.
Peran tersebut membuat profesi diplomat membutuhkan kemampuan adaptasi yang tinggi, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya, pola komunikasi, hingga ekspektasi kerja dari berbagai kementerian dan lembaga.
Regulasi Baru Perluas Kewenangan Diplomat
Dalam paparannya, Dhanang juga menyinggung perubahan regulasi yang memperluas kewenangan utusan negara di luar negeri. Peraturan Presiden Nomor 150 Tahun 2024 disebut memberikan ruang lebih luas bagi diplomat dalam menjalankan tugas koordinasi lintas sektor.
Dengan regulasi tersebut, diplomat dituntut memiliki kapasitas profesional yang lebih tinggi, termasuk kemampuan membangun hubungan internasional yang stabil dan berkelanjutan.
Kemampuan Bahasa Penting dalam Perjanjian Internasional
Salah satu aspek yang disoroti dalam kuliah tamu tersebut adalah pentingnya kemampuan bahasa dalam proses penyusunan dokumen diplomatik.
Perjanjian internasional umumnya disusun dalam beberapa bahasa sekaligus, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa negara mitra. Dalam proses tersebut, analisis kebahasaan menjadi krusial untuk memastikan tidak ada perbedaan makna antarversi dokumen.
Karena itu, lulusan sastra dinilai memiliki keunggulan dalam memahami nuansa bahasa serta konteks sosial yang sering kali menentukan keberhasilan komunikasi diplomatik.
Tips Rekrutmen Diplomat di Kemenlu
Di akhir sesi, Dhanang juga membagikan gambaran proses rekrutmen di Kementerian Luar Negeri. Ia menjelaskan bahwa calon diplomat biasanya akan menghadapi tahap wawancara yang menggunakan bahasa Inggris secara penuh serta kemampuan dasar bahasa asing lain, termasuk bahasa Jepang.
Pelamar yang lolos seleksi nantinya akan mengikuti pembekalan lanjutan terkait praktik diplomasi sebelum ditempatkan di berbagai perwakilan Indonesia di luar negeri.
Melalui kegiatan ini, Departemen Sastra Jepang UNAIR berharap mahasiswa semakin memahami potensi karier di bidang diplomasi internasional sekaligus memperkuat peran lulusan bahasa dalam membangun hubungan antarnegara. (rio)


as a preferred source on Google



