Belem (beritajatim.id) – Menteri Keuangan Amerika Serikat, Janet Yellen, mengungkapkan bahwa transisi global menuju ekonomi rendah karbon memerlukan tambahan investasi sebesar 3 triliun Dollar AS per tahun hingga 2050. Angka ini jauh melebihi tingkat pembiayaan saat ini dan dianggap sebagai peluang ekonomi terbesar abad ke-21.
Dalam pidatonya di Belem, Brasil, Yellen menekankan bahwa meskipun pemerintah AS berkomitmen untuk mencapai tujuan emisi nol bersih, upaya tersebut memerlukan kepemimpinan global yang lebih luas. “Mengabaikan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati bukan hanya kebijakan lingkungan yang buruk, tetapi juga kebijakan ekonomi yang buruk,” ujar Yellen setelah menghadiri pertemuan para pemimpin keuangan G20 di Rio de Janeiro pada Kamis dan Jumat lalu.
Yellen menjelaskan bahwa pada 2022, negara-negara maju telah mengalokasikan dan memobilisasi dana iklim sebesar 116 miliar Dollar AS untuk negara-negara berkembang, dengan 40 persen di antaranya berasal dari bank pembangunan multilateral (MDB) seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Inter-Amerika (IDB). Namun, bank-bank ini kini telah menetapkan target baru untuk pendanaan.
Menurut Yellen, kebutuhan pendanaan untuk transisi iklim merupakan peluang ekonomi yang besar dan dapat mendorong pertumbuhan berkelanjutan serta inklusif, termasuk di negara-negara yang kekurangan investasi. “Kami berharap program ini akan memberikan insentif bagi investasi sektor swasta yang lebih besar di kawasan yang mendukung alam,” tambahnya.
Selama kunjungannya di Belem, Yellen bertemu dengan menteri keuangan dari negara-negara lembah Amazon dan Presiden IDB, Ilan Goldfajn. Ia menegaskan kembali komitmen AS terhadap platform ‘Amazonia Forever’ yang menawarkan pendekatan holistik untuk pembangunan berkelanjutan melalui pendanaan, persiapan proyek, dan kolaborasi.
Yellen juga mengungkapkan bahwa hampir dua tahun lalu, ia mendorong MDB untuk memperluas misi dan kapasitas pinjaman mereka guna mencakup upaya penanggulangan perubahan iklim. Investasi swasta dalam jumlah besar tetap diperlukan, dan Departemen Keuangan AS, Kementerian Keuangan Brasil, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya sedang berusaha meningkatkan keterlibatan dengan sektor swasta.
Pada Sabtu (27/7/2024), Yellen meluncurkan inisiatif baru bersama negara-negara di kawasan lembah Amazon, termasuk Brasil, Kolombia, Ekuador, Guyana, Peru, dan Suriname. Inisiatif ini bertujuan memerangi kejahatan lingkungan seperti penebangan liar dan pemanenan satwa liar yang mengancam keanekaragaman hayati dan ekosistem Amazon.
Dengan upaya ini, Yellen berharap dapat mempercepat mobilisasi investasi untuk mendukung pelestarian alam dan memajukan transisi iklim global. (hdl/voaindonesia)


as a preferred source on Google



