Jombang (beritajatim.id) – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, ada sebuah tradisi yang tetap mempertahankan nilai-nilai kebersamaan dan cinta tanah air. Salah satunya adalah pengajian rutin yang digelar oleh Jam’iyah Ahlit Thoriqoh al-Mu’tabaroh Qodariyah wan Naqshabandiyah al-Nahdliyah Pusat Cukir, yang kali ini berlangsung dengan nuansa berbeda, Selasa Wage (5/8/2025).
Bertempat di halaman Mushola Baitul Muttaqien, Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, acara ini menarik perhatian dengan inovasi yang tak biasa: menyanyikan lagu-lagu nasional.
Acara dimulai dengan penuh semangat, saat sang mursyid, KH Syamsuddin Ali, mengajak seluruh jamaah untuk bersama-sama menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Mulai dari “Indonesia Raya”, “Garuda Pancasila”, hingga “Hari Merdeka” dan “Indonesia Pusaka”.
Peserta yang dapat menyanyikan lagu-lagu tersebut dengan fasih bahkan dipersilakan naik ke atas panggung untuk memeriahkan suasana. Sebagai bentuk apresiasi, mereka diberi hadiah uang tunai.
Sebelum memberikan tausiyah, KH Syamsuddin menegaskan pentingnya mencintai tanah air. “Jamiyah pengikut thoriqoh mesti mencintai tanah airnya,” ujarnya. Sebuah pernyataan yang mengingatkan jamaah bahwa kecintaan terhadap bangsa dan negara adalah bagian integral dari iman yang harus dijaga.
Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari seribu jamaah, yang terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari laki-laki, perempuan, hingga kaum muda yang tampak antusias mengikuti jalannya acara.
Tidak hanya warga biasa, tetapi juga pejabat setempat turut hadir, seperti Camat Diwek Agus Sholihuddin, Kepala Desa Kayangan Hj. Tutik Handayani, serta jajaran perangkat desa dan pengurus Ranting NU Desa Kayangan.
Rangkaian acara dimulai dengan serangkaian salat sunat, di antaranya salat taubat, salat dhuha, dan salat hajat, yang dipimpin oleh Ustadz J Sutadi Effendi. Sesudahnya, acara dilanjutkan dengan istigasah yang dipimpin oleh H Mahfudz, dan tahlil yang dipimpin oleh H Tamhid. Masing-masing sesi diikuti dengan khusyu dan penuh kekhusyukan oleh para jamaah.

Hj. Tutik Handayani, Kepala Desa Kayangan, menyampaikan harapan agar para jamaah dapat istiqomah mengikuti kegiatan seperti ini, karena ilmu yang didapatkan dapat menjadi bekal yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. “Biar ilmunya bisa dibawa pulang,” tuturnya dengan penuh harap.
Sementara itu, Camat Diwek Agus Sholihuddin mengajak masyarakat untuk meramaikan kegiatan positif ini dan menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dengan semangat kebangsaan yang tinggi.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga simbol-simbol negara, seperti bendera merah putih, agar tetap terawat dengan baik. “Kalau ada bendera yang warnanya mulai pudar, tolong diganti,” imbuhnya.
Selama acara, jamaah tampak mengikuti dengan penuh rasa khusyuk dan tertib. Suasana penuh kekhidmatan ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Abdurrosyad dari Jerukwangi, Kediri.
Selasa Wage kali ini bukan hanya sekadar pengajian rutin, tetapi juga menjadi wadah bagi jamaah untuk meneguhkan rasa cinta tanah air melalui ibadah dan kebersamaan. Sebuah momentum yang memperlihatkan bahwa iman dan nasionalisme dapat berjalan beriringan, saling menguatkan. [yus]


as a preferred source on Google




