Jakarta (beritajatim.id) — Keputusan Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif 50 persen atas impor daging sapi Brasil pada Agustus 2025 mengguncang perdagangan global dan memaksa Brasil mencari pasar alternatif.
Sebagai eksportir terbesar daging sapi dunia, Brasil dengan cepat mengalihkan sebagian besar pengiriman ke mitra baru, terutama Meksiko dan Argentina.
Meksiko Geser Posisi Amerika Serikat
Data Asosiasi Brasil untuk Industri Eksportir Daging (Abiec) menunjukkan bahwa antara 1 hingga 25 Agustus 2025, Meksiko menyalip Amerika Serikat sebagai tujuan utama kedua daging sapi Brasil.
Dalam periode tersebut, Brasil mengekspor 10.200 ton senilai US$ 58,8 juta ke Meksiko, sementara pengiriman ke AS hanya mencapai 7.800 ton dengan nilai US$ 43,6 juta.
Kinerja impresif ini melanjutkan tren positif sejak awal tahun. Dari Januari hingga Juli 2025, Meksiko telah mengimpor 67.659 ton daging sapi dari Brasil—hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sama pada 2024. Lonjakan tersebut menjadikan Meksiko sebagai pilar baru dalam ekspor daging sapi Brasil.
Argentina Ikut Perbesar Pembelian
Selain Meksiko, Argentina juga meningkatkan pembelian daging sapi Brasil sepanjang 2025. Meski biasanya menjadi kompetitor di pasar global, negara tetangga itu kini memanfaatkan pasokan Brasil untuk memenuhi kebutuhan domestik serta industri pengolahan dagingnya.
Walau volumenya belum sebanding dengan pengiriman ke China atau Meksiko, langkah Argentina menegaskan strategi Brasil dalam mendiversifikasi pasar ekspor di tengah tekanan tarif Amerika Serikat.
China Tetap Jadi Pasar Utama
Kendati Meksiko dan Argentina memperbesar peran, China masih menjadi pembeli terbesar daging sapi Brasil, dengan kontribusi lebih dari 40 persen terhadap total ekspor. Pada Agustus 2025, impor dari China melampaui 100 ribu ton.
Namun, para analis menilai ketergantungan berlebihan pada satu pasar utama menjadi risiko jangka panjang. Diversifikasi menuju Amerika Latin dipandang penting untuk menjaga ketahanan industri.
Dampak Global dan Reposisi Pasar
Tarif tinggi dari AS diperkirakan memangkas drastis pangsa Brasil di pasar Amerika. Pada 2024, AS merupakan tujuan ekspor terbesar kedua setelah China. Kehilangan pasar bernilai ratusan juta dolar ini mendorong Brasil untuk mencari pembeli baru.
Kebijakan AS juga berpotensi mengubah peta perdagangan daging sapi dunia. Sebagian pasokan Brasil kini dialihkan ke Meksiko, Argentina, dan negara lain di kawasan. Sementara itu, AS dipaksa mencari pasokan tambahan dari Australia dan Kanada, yang berisiko meningkatkan biaya produksi dalam negeri. China pun berpotensi memanfaatkan situasi ini untuk menekan harga beli.
Brasil Cari Peluang di Tengah Krisis
Meski tertekan, Brasil melihat peluang dalam krisis ini. Dengan cepat menyesuaikan strategi, negara tersebut berupaya memperluas jangkauan ekspor, membuktikan kapasitasnya sebagai pemasok yang tangguh dan kompetitif.
Abiec menegaskan bahwa fokus industri pada 2025 adalah memperkuat hubungan jangka panjang dengan berbagai mitra, mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu, dan menjaga stabilitas ekspor di tengah ketidakpastian global. (aga)


as a preferred source on Google



