London (beritajatim.id) – Ribuan warga menggelar aksi protes di pusat kota London pada Rabu (17/9) menentang kunjungan kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Inggris. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan penyambutan kenegaraan di Windsor Castle, yang diwarnai arak-arakan kerajaan dan parade militer.
Protes bertajuk “Trump Not Welcome” itu digagas oleh koalisi Stop Trump Coalition dan didukung berbagai organisasi, termasuk aktivis pro-Palestina. Polisi memperkirakan sekitar 5.000 orang ikut serta dalam demonstrasi damai menuju Gedung Parlemen. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Not Wanted Here, Not Wanted Anywhere” serta “Trump, a big step back on the evolution of man”.
Bryan Murray, seorang pensiunan yang hadir bersama istrinya, menyebut kehadirannya sebagai bentuk penolakan terhadap nilai-nilai yang dibawa Trump. “Saya tidak suka apa pun yang diwakili Trump dan pemerintahannya di dunia. Sangat buruk,” ujarnya sambil mengangkat poster bertuliskan “Dump Trump”.
Meski begitu, di Windsor Castle—sekitar 40 km dari pusat London—sejumlah kecil simpatisan Trump berkumpul menyambut sang presiden. Seorang pendukung bahkan mengenakan topi bertuliskan “Trump was right about everything”.
Opini Publik Terbelah
Kunjungan Trump kali ini merupakan yang kedua dalam kapasitas kenegaraan, sesuatu yang jarang diberikan kepada pemimpin asing. Namun, kehadirannya tetap menuai perdebatan. Survei YouGov mencatat 45 persen warga Inggris menilai undangan tersebut keliru, sementara 30 persen mendukung keputusan pemerintah.
Situasi politik makin memanas setelah gambar Trump dan terpidana kasus pelecehan seksual Jeffrey Epstein diproyeksikan ke tembok Windsor Castle. Isu Epstein juga menjadi sorotan setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memecat duta besar Inggris untuk AS karena kedekatannya dengan Epstein.
Pertemuan dengan Starmer
Trump dijadwalkan bertemu Starmer pada Kamis (18/9) untuk membicarakan isu global serta meresmikan paket investasi senilai 150 miliar poundsterling (sekitar Rp3.900 triliun) dari AS ke Inggris. Investasi itu meliputi sektor teknologi, energi, dan ilmu hayati, yang digadang sebagai upaya memperkuat kembali special relationship kedua negara.
Namun, pertemuan ini juga tidak lepas dari potensi perdebatan. Persoalan hubungan dengan Epstein hingga sikap terhadap konflik Israel-Palestina berpeluang menjadi pertanyaan tajam dalam konferensi pers bersama.
Trump sebelumnya mengkritik negara-negara Eropa yang mengakui Palestina sebagai bentuk “penghargaan bagi Hamas”, meski ia mengaku tidak keberatan jika Starmer mengambil posisi berbeda.
Aksi Massa Jadi Sorotan
Meski jumlah peserta tidak sebesar aksi pada 2018 yang sempat mencapai 250 ribu orang, demonstrasi kali ini menunjukkan penolakan publik terhadap Trump belum mereda. Juru bicara Stop Trump Coalition menegaskan, aksi tersebut menjadi simbol bahwa Inggris menolak kebencian, perpecahan, dan otoritarianisme. (aga)


as a preferred source on Google



