Tel Aviv (beritajatim.id) – Pasukan Israel mencegat dan menaiki kapal flotilla internasional yang membawa bantuan ke Gaza, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg. Kapal-kapal tersebut kemudian digiring ke pelabuhan Israel, memicu kecaman luas dari dunia internasional.
Flotilla Global Sumud, yang terdiri dari lebih dari 40 kapal sipil dengan sekitar 500 aktivis, politisi, dan pengacara, berlayar membawa obat-obatan dan makanan menuju Gaza. Namun, kapal dihentikan sekitar 70 mil laut dari wilayah tersebut.
Pemerintah Israel menyatakan operasi itu dilakukan demi menegakkan blokade laut terhadap Gaza. Militer Israel menegaskan pihaknya menawarkan jalur aman untuk pengiriman bantuan, tetapi flotilla memilih menerobos.
Di sisi lain, para penyelenggara menyebut penahanan tersebut sebagai “kejahatan perang” dan menuduh Israel melakukan intersepsi ilegal di perairan internasional. Mereka juga melaporkan komunikasi flotilla sempat disabotase menggunakan teknologi pengacau sinyal.
Kecaman datang dari sejumlah negara. Turki menyebut aksi Israel sebagai “teror negara” dan menuntut pembebasan warga mereka. Spanyol dan Irlandia menyoroti keselamatan para aktivis, sementara Kolombia menindaklanjuti dengan mengusir diplomat Israel.
Flotilla ini menjadi upaya terbaru untuk menembus blokade laut Gaza yang diberlakukan Israel sejak Hamas mengambil alih wilayah tersebut pada 2007. Sebelumnya, beberapa misi serupa juga berakhir dengan konfrontasi.
Konflik di Gaza semakin memburuk sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel. Sebagai balasan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 65.000 orang di Gaza, menurut otoritas kesehatan setempat. (hdl)


as a preferred source on Google



