Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Ragam»Candi Kidal: Menelusuri Jejak Anusapati, Pesan Moral Garudeya, dan Bakti Seorang Raja

Candi Kidal: Menelusuri Jejak Anusapati, Pesan Moral Garudeya, dan Bakti Seorang Raja

Hendro D. LaksonoHendro D. Laksono Ragam 2 November 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Candi Kidal, peninggalan Singasari, menyimpan catatan sejarah, relief, dan arsitektur Jawa Timuran yang penuh makna
Candi Kidal, peninggalan Singasari, menyimpan catatan sejarah, relief, dan arsitektur Jawa Timuran yang penuh makna

Malang (beritajatim.id) – Terletak di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Candi Kidal berdiri kokoh sebagai salah satu situs warisan Kerajaan Singasari yang paling berharga.

Candi yang dibangun pada tahun 1248 Masehi ini merupakan bentuk penghormatan untuk jasa besar Anusapati, Raja kedua Singasari yang memerintah selama dua dekade (1227-1248 M).

Berbeda dengan candi sezamannya, Candi Kidal menyimpan narasi yang dalam, mulai dari fungsi sebagai tempat pendharmaan raja, kisah bakti dalam relief Garudeya, hingga kaitannya dengan sejarah kelam perebutan takhta Singasari.

Arsitektur Khas dan Pemugaran

Candi Kidal memiliki karakteristik arsitektur Jawa Timuran yang kuat. Candi ini terbuat dari batu andesit dengan tiga bagian utama: kaki, tubuh, dan atap.

Kaki candi yang tinggi dan tangga yang kecil memberi kesan vertikal yang ramping. Atapnya bertingkat tiga, semakin ke atas semakin mengecil, dan konon dihiasi berlian kecil di setiap pojoknya.

Candi ini sempat mengalami pemugaran menyeluruh pada dekade 1990-an yang mengembalikan keagungannya. Di sekeliling candi, dapat dilihat sisa-sisa fondasi tembok keliling hasil rekonstruksi. Saat ini, jalan menuju candi telah layak, dikelilingi taman yang tertata rapi dan nuansa pedesaan yang asri.

Relief Garudeya: Simbol Pembebasan dan Kebaktian

Salah satu daya tarik utama Candi Kidal adalah tiga panel relief indah di kaki candi yang mengisahkan legenda Garudeya. Cerita mitologi Hindu ini berkisah tentang perjalanan Garuda untuk membebaskan ibunya, Winata, dari perbudakan dengan menebus air suci Amerta.

Baca Juga:  Membangun Personal Branding di Era Digital, Langkah dan Strategi Efektif untuk Tapaki Karir

Relief Pertama
Menggambarkan Garuda yang masih muda berada di bawah tiga ekor ular, melambangkan beban perbudakan yang ditanggungnya dan ibunya.

Relief Kedua
Menampilkan Garuda yang berhasil memperoleh kendi berisi Amerta di atas kepalanya. Relief ini dianggap yang paling utuh dan artistik.

Relief Ketiga
Memperlihatkan Garuda gagah perkasa menggendong ibunya, simbol dari pembebasan yang berhasil diraih.

Kisah moral tentang pembebasan ini tidak hadir tanpa alasan. Relief ini diyakini memiliki kaitan erat dengan tujuan pendirian candi.

Anusapati dan Bakti pada Ibu

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Candi Kidal adalah tempat pendharmaan Anusapati, yang diarcakan sebagai Siwa. Filosofi Jawa menganggap candi sebagai tempat ruwatan (penyucian) bagi raja yang telah wafat agar dapat mencapai alam dewata.

Pemilihan cerita Garudeya diduga kuat merupakan pesan dari Anusapati sendiri untuk meruwat ibunya, Ken Dedes. Sejarah mencatat, hidup Ken Dedes penuh nestapa.

Ia diperistri secara paksa oleh Akuwu Tunggul Ametung, yang kemudian dibunuh oleh Ken Arok untuk merebutnya. Setelah menikah dengan Ken Arok, posisinya sering kali tersisihkan.

Anusapati, yang dikenal sangat berbakti, ingin membebaskan arwah ibunya dari segala penderitaan yang dialaminya semasa hidup, persis seperti Garuda yang membebaskan ibunya. Dengan demikian, relief Garudeya bukan sekadar hiasan, melainkan simbol bakti seorang anak yang mendalam.

Lokasi Candi Kidal (sumber: Google Map)
Lokasi Candi Kidal (sumber: Google Map)

Fungsi dan Penjaga Gaib Candi

Sebagai candi corak Jawa Timuran, Candi Kidal berfungsi utama sebagai candi pendharmaan atau makam untuk Raja Anusapati, berbeda dengan candi di Jawa Tengah yang lebih menekankan fungsi keagamaan komunal.

Baca Juga:  Mengapa Sebagian Pria Tak Kunjung Menikah? Ternyata Bukan Selalu Karena Takut Komitmen

Candi ini juga dijaga oleh sosok Kala yang dipahatkan di atas pintu masuk. Wajah Kala di Candi Kidal terlihat sangat garang dengan mata melotot, mulut terbuka, dan sepasang taring besar yang membengkok—ciri khas arsitektur Jawa Timuran. Kehadiran Kala dimaksudkan sebagai penjaga gaib bangunan suci ini dari roh-roh jahat.

Kondisi Saat Ini dan Lokasi

Di bawah pengelolaan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Candi Kidal kini terpelihara dengan baik. Meski tidak sepopuler Candi Singosari atau Jago, ketenangan dan keasrian lokasinya justru menjadi nilai lebih bagi pengunjung yang ingin menikmati warisan sejarah tanpa keramaian.

Candi Kidal terletak di ketinggian 520 meter di atas permukaan laut, di lereng barat Pegunungan Tengger. Untuk mengunjunginya, dibutuhkan perjalanan sekitar 20 kilometer ke arah timur dari Kota Malang.

Candi Kidal bukan hanya sekadar tumpukan batu kuno. Ia adalah buku terbuka yang bercerita tentang kekuasaan, kutukan, dan yang paling menyentuh, tentang cinta dan bakti seorang anak kepada ibunya yang abadi dalam relief batu. (hdl)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
candi sejarah Indonesia wisata malang
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Ide Bekal Anak Bukan Sekadar Makanan, Ini Cara agar Si Kecil Lahap Menyantapnya

17 Juli 2026 Ragam

Fenomena Langit Juli 2026: Ada Hujan Meteor, Bima Sakti hingga Bulan Purnama Rusa

1 Juli 2026 Ragam

Nicholas Saputra Jadi Brand Ambassador Herbal Kemasan, Undang Perhatian Publik

26 Juni 2026 Lifestyle

Mengapa Sebagian Pria Tak Kunjung Menikah? Ternyata Bukan Selalu Karena Takut Komitmen

24 Juni 2026 Ragam

Pakaian Susah Kering Saat Musim Hujan? Ini 7 Cara Ampuh agar Tidak Bau Apek

23 Juni 2026 Ragam

Kapan Malam 1 Suro 2026? Ini Tradisi dan Pantangan yang Masih Dipercaya

13 Juni 2026 Ragam
Leave A Reply Cancel Reply

Ide Bekal Anak Bukan Sekadar Makanan, Ini Cara agar Si Kecil Lahap Menyantapnya

17 Juli 2026
Berita Terbaru
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko

Polri Gandeng UPH dan Komdigi Edukasi Mahasiswa Cegah Judi Online Lewat Program Polri Goes to Campus

16 Juli 2026
Polres Mojokerto Kota memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Silaturahmi Kamtibmas, mendorong keamanan, pelayanan publik, dan keselamatan berlalu lintas.

Polres Mojokerto Kota Perkuat Sinergi dengan Warga Lewat Silaturahmi Kamtibmas dan Ajak Jaga Keamanan Bersama

16 Juli 2026

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026

Setjen DPD RI Buka Program Magang Nasional 2026, Kuota 233 Orang dengan Uang Saku hingga Rp6 Juta

16 Juli 2026
Lionel Messi

Messi Antar Argentina Singkirkan Inggris dan Melaju ke Final Piala Dunia, Siap Tantang Spanyol

16 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.