Surabaya (beritajatim.id) – Tiga mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menyabet gelar Juara I dalam International Paper Competition 2025 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Prestasi internasional ini diraih berkat inovasi platform pertukaran data Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) berbasis teknologi.
Tim yang terdiri dari Cynthia Saphira Puteri (Ekonomi Islam 2024), Muhammad Naufal Fauza (Akuntansi 2024), dan Noka Al Jazera (Ekonomi Islam 2022) tersebut mengusung sebuah konsep revolusioner bertajuk Design of ZISWAF Data Exchange (ZDX) Berbasis Open API Menuju Sumber Data Tunggal dalam Tata Kelola Zakat dan Wakaf Nasional.
Menurut penuturan Cynthia Saphira Puteri, ketertarikan untuk mengikuti kompetisi bermula dari ajakan rekan dan skalanya yang internasional. Ia menambahkan bahwa kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta dari berbagai kampus menjadi motivasi tambahan bagi tim untuk memberikan performa terbaik.
ZDX: Solusi Atas Kesenjangan Data ZISWAF Nasional
Gagasan ZDX berakar dari permasalahan klasik dalam ekosistem ZISWAF di Indonesia, yaitu terputusnya aliran data antar lembaga zakat. Kondisi ini dinilai menghambat optimalisasi potensi dana sosial keagamaan yang sangat besar dan kerap menyebabkan ketidaktepatan dalam penyaluran bantuan kepada mustahik.
Cynthia menjelaskan bahwa potensi ZISWAF sebenarnya sangat besar, namun pengelolaannya masih terkendala data yang berjalan secara parsial dan tidak terintegrasi. Melalui ZDX, tim menawarkan solusi untuk menciptakan konektivitas dan transparansi antar lembaga zakat.
Konsep ZDX dirancang sebagai sebuah sistem pertukaran data berbasis Open API. Platform ini memungkinkan terjadinya standardisasi data, verifikasi penerima bantuan yang lebih akurat, serta pelacakan penyaluran dana secara real-time. Dengan demikian, efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan ZISWAF nasional dapat ditingkatkan secara signifikan.
Jalannya Kompetisi dan Kunci Kesuksesan
Seluruh tahapan kompetisi, mulai dari seleksi abstrak hingga presentasi final, dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Tim harus mempresentasikan gagasannya di hadapan dewan juri yang terdiri dari akademisi dalam dan luar negeri.
Cynthia mengungkapkan bahwa sesi presentasi berlangsung sangat intens. Meski waktu presentasi hanya tujuh menit, sesi tanya jawab berlangsung hampir dua puluh menit dengan berbagai pertanyaan mendalam seputar kebaruan ide mereka.
Suasana penilaian yang ketat menuntut tim untuk memberikan respons yang cepat, tepat, dan terstruktur. Apresiasi tinggi diberikan oleh para juri terhadap relevansi permasalahan yang diangkat serta kedalaman analisis yang disajikan dalam naskah.
Tim menilai bahwa kemenangan ini tidak lepas dari tiga faktor utama: orisinalitas gagasan, penyusunan naskah yang sistematis dan rapi, serta kemampuan penyampaian presentasi yang profesional dan meyakinkan.
Komitmen Pengembangan Ke Depan
Awalnya tidak menyangka mampu menanjak dari peringkat empat menjadi Juara I, Cynthia menyebut perjalanan ini sebagai pengingat akan pentingnya proses dan ketekunan, di mana hasil positif sering kali datang sebagai kejutan yang menyenangkan.
Ke depan, tim berkomitmen untuk terus mematangkan konsep ZDX. Rencana pengembangan lebih lanjut dan eksplorasi potensi kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait akan dilakukan untuk mewujudkan gagasan ini menjadi solusi yang aplikatif di lapangan.
Pada kesempatan ini, mereka juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada orang tua, para dosen pembimbing, seluruh civitas akademika FEB UNAIR, serta rekan-rekan dan semua pihak yang telah memberikan dukungan tanpa henti selama perjalanan kompetisi ini. (rio)


as a preferred source on Google



