Jakarta (beritajatim.id) – Tradisi belanja akhir tahun yang selama puluhan tahun bertumpu pada momentum Black Friday kini memasuki babak baru. Pada 2025, musim belanja liburan dibuka dengan ketidakpastian karena konsumen dan retailer terjebak dalam kondisi yang disebut analis sebagai permainan “discount chicken,” di mana masing-masing pihak menunggu langkah satu sama lain. Retailer menunda pemotongan harga, sementara konsumen menunggu diskon yang dianggap lebih layak.
Kepala strategi dan insight Cordial, Rob Garf, menilai dinamika tersebut tidak lepas dari memburuknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Survei Conference Board menunjukkan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen Amerika Serikat menjadi 88,7 pada November, level terendah sejak April, jauh di bawah ekspektasi ekonom.
Perubahan pola belanja juga semakin nyata. Data Cordial mencatat bahwa hanya 20 persen konsumen Amerika yang menjadikan Black Friday sebagai titik awal belanja liburan. Sebagian besar telah memulai lebih awal, sementara sisanya menunggu setelah periode diskon berakhir. Ketidakpercayaan publik ikut mempertegas tren ini, terutama karena maraknya dugaan diskon palsu, manipulasi harga berbasis AI, serta banyaknya toko fisik yang tutup.
Laporan Lightspeed Commerce mengungkap bahwa mayoritas konsumen yakin retailer menaikkan harga sebelum Black Friday. Temuan WalletHub terhadap lebih dari 3.000 produk juga memperlihatkan bahwa sebagian besar penawaran tidak menghasilkan penghematan, bahkan ada yang lebih mahal dibanding bulan-bulan sebelumnya. Teknologi penetapan harga dinamis berbasis AI, yang dapat menampilkan harga berbeda untuk setiap pengguna, semakin menyulitkan konsumen menilai keaslian penawaran.
Beberapa regulator mulai merespons fenomena tersebut. Biro Persaingan Usaha Kanada, misalnya, mengeluarkan peringatan terhadap praktik inflasi harga menjelang Black Friday. Namun pengawasan terbesar justru datang dari konsumen sendiri yang semakin aktif menelusuri dan membandingkan harga menggunakan teknologi.
Di media sosial, termasuk Reddit, banyak pengguna melaporkan temuan harga yang tidak sesuai dengan klaim diskon. Penelusuran mandiri konsumen menunjukkan bahwa sejumlah produk yang dipromosikan sebagai potongan besar ternyata pernah dijual dengan harga lebih rendah pada bulan-bulan sebelumnya.
Persaingan teknologi juga semakin memengaruhi perilaku belanja. Retailer memaksimalkan AI untuk penetapan harga dan personalisasi, sementara konsumen memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi penawaran yang valid. Survei Deloitte 2025 menunjukkan lonjakan penggunaan AI generatif dalam belanja, dari 16 persen pada tahun sebelumnya menjadi 33 persen, dengan angka tertinggi pada kelompok Gen Z.
Peluncuran fitur riset belanja oleh OpenAI pada 24 November mendorong konsumen semakin bergantung pada teknologi untuk verifikasi harga. Namun pola harga yang dipengaruhi algoritma retailer justru menciptakan ketidakseragaman hasil pencarian produk antar pengguna, bergantung pada sensitivitas harga dan riwayat belanja masing-masing.
Tekanan ekonomi turut memperberat situasi bagi pelaku industri. Data Yale’s Budget Lab mencatat kenaikan tarif impor dari 2,4 persen di awal 2025 menjadi 17,9 persen pada akhir Oktober. Tekanan tarif tersebut memaksa banyak pelaku retail menahan diskon demi menjaga margin. Pemilik Upstream Brands, Dan Peskorse, menyebut penyesuaian harga dan pembatasan diskon menjadi satu-satunya opsi untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Deloitte juga melaporkan bahwa pengeluaran rata-rata konsumen pada periode Black Friday–Cyber Monday diproyeksikan turun menjadi 622 dolar, penurunan pertama dalam empat tahun. Mayoritas konsumen memperkirakan harga akan terus naik dan kondisi ekonomi akan melemah.
Sementara itu, lonjakan penipuan berbasis AI memperburuk situasi. Laporan NordVPN menunjukkan peningkatan hingga 620 persen pada email phishing dan pertumbuhan signifikan situs e-commerce palsu yang meniru retailer besar dengan memanfaatkan ulasan buatan AI untuk meyakinkan korban.
Dengan tingkat kepercayaan konsumen yang merosot, tekanan biaya bagi retailer, dan penetrasi AI yang semakin besar di kedua sisi, Black Friday 2025 dipandang sebagai titik perubahan besar dalam pola belanja musim liburan. (aga)


as a preferred source on Google



