Jakarta (beritajatim.id) – Militer Israel mengonfirmasi bahwa pasukannya menewaskan seorang petinggi Hamas dalam sebuah serangan di Jalur Gaza pada Sabtu. Operasi tersebut diklaim sebagai bagian dari respons terhadap aktivitas militan yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) bersama badan keamanan dalam negeri Shin Bet menyampaikan bahwa target yang tewas adalah Ra’ad Sa’ad, yang disebut sebagai kepala divisi produksi senjata pada sayap militer Hamas. Menurut otoritas Israel, Ra’ad Sa’ad merupakan salah satu perencana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan termasuk figur senior yang masih tersisa di Gaza.
Dalam pernyataan resmi, IDF dan Shin Bet menuding Ra’ad Sa’ad memiliki peran langsung dalam pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas dalam beberapa bulan terakhir. Ia dituding terus memimpin produksi senjata selama masa gencatan senjata, yang menurut Israel menjadi ancaman berkelanjutan bagi keamanan pasukan dan wilayahnya.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa operasi yang menewaskan Ra’ad Sa’ad dilakukan sebagai respons atas insiden peledakan alat peledak yang dipasang Hamas dan melukai pasukan Israel pada hari yang sama di Gaza. Insiden tersebut terjadi ketika pasukan Israel tengah melakukan operasi pembersihan infrastruktur militan di wilayah selatan Jalur Gaza.
Sebelumnya, militer Israel melaporkan bahwa dua prajurit cadangan mengalami luka ringan akibat ledakan alat peledak tersebut. Operasi keamanan tetap dilanjutkan dengan tujuan menekan kemampuan militer kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Meski gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku sejak Oktober lalu, situasi keamanan di Gaza tetap tegang. Otoritas kesehatan di Gaza melaporkan bahwa serangan Israel yang terus berlangsung sejak gencatan senjata diberlakukan telah menewaskan lebih dari 380 orang dan menyebabkan lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka.
Perkembangan ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang terjadi di tengah upaya diplomatik untuk mempertahankan gencatan senjata. Konflik yang belum mereda sepenuhnya tersebut menyoroti rapuhnya kesepakatan damai serta tantangan besar dalam menjaga stabilitas dan keselamatan warga sipil di Jalur Gaza. (ris)


as a preferred source on Google



