Jakarta (beritajatim.id) – Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) mengirimkan sekitar 106 metrik ton bantuan nutrisi penyelamat jiwa ke Jalur Gaza melalui jalur laut, menandai tonggak penting dalam upaya memperluas akses kemanusiaan di tengah konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Pengiriman ini merupakan bagian dari inisiatif Humanitarian Bridge WHO yang berbasis di Siprus. Bantuan tersebut telah tiba di pelabuhan Ashdod, Israel, dan saat ini tengah dipersiapkan untuk didistribusikan ke wilayah Gaza yang terdampak parah oleh perang.
WHO menyebut langkah ini sebagai capaian operasional signifikan dalam memperkuat kapasitas logistik kemanusiaan lintas wilayah, khususnya untuk merespons krisis di Gaza yang semakin kompleks. Jalur laut ini diharapkan menjadi solusi alternatif untuk mempercepat pengiriman bantuan yang selama ini terkendala berbagai hambatan.
Inisiatif Humanitarian Bridge merupakan kolaborasi antara kantor WHO di Siprus dan wilayah pendudukan Palestina. Skema ini dirancang untuk memastikan distribusi bantuan kesehatan dapat dilakukan secara cepat, efisien, dan dalam skala besar, sesuai dengan mandat United Nations Security Council melalui Resolusi 2720 tahun 2023.
Pemerintah Siprus memegang peran utama dalam implementasi jalur ini, bersama tim mekanisme PBB yang dijalankan oleh United Nations Office for Project Services (UNOPS). Kerja sama ini menghadirkan koridor maritim yang netral dan transparan untuk penyaluran bantuan internasional ke Gaza.
Secara geografis, posisi Siprus yang berjarak sekitar 370 kilometer dari Gaza dinilai strategis untuk menjadi pusat logistik. Selain mempercepat mobilisasi bantuan, jalur laut ini juga berfungsi mengurangi hambatan distribusi yang selama ini sering terjadi melalui jalur darat.
WHO menilai diversifikasi rute distribusi menjadi langkah krusial dalam memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat secara tepat waktu. Dengan adanya jalur tambahan ini, proses pengiriman diharapkan lebih efisien sekaligus memperkecil risiko keterlambatan akibat kendala operasional.
Di sisi lain, dukungan kemanusiaan dari berbagai badan PBB terus berlangsung meskipun akses masuk ke Gaza masih terbatas. Saat ini, penyeberangan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem menjadi satu-satunya jalur utama untuk distribusi barang.
Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, menyebut lebih dari 270 ribu liter bahan bakar telah berhasil dikirim untuk menjaga layanan kemanusiaan tetap berjalan. Selain itu, UNICEF turut mendistribusikan ratusan palet bantuan yang mencakup nutrisi, obat-obatan, serta perlengkapan kebersihan dasar.
Upaya pemulihan juga dilakukan di sektor pangan. Food and Agriculture Organization (FAO) meningkatkan bantuan tunai kepada sekitar 1.000 petani di Gaza guna menghidupkan kembali produksi pertanian lokal. Program ini melanjutkan keberhasilan proyek sebelumnya yang mampu menghasilkan ratusan ton sayuran segar.
FAO memperkirakan inisiatif tersebut dapat menghasilkan hingga 5.000 metrik ton sayuran, cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan sekitar 95.000 orang selama satu tahun. Selain membantu mengatasi krisis pangan, program ini juga membuka peluang kerja dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan berbagai langkah ini, komunitas internasional terus berupaya menjaga aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza tetap berjalan, sekaligus memperkuat sistem logistik yang lebih tangguh di tengah situasi konflik yang belum mereda. (ian)


as a preferred source on Google



