Kyiv (beritajatim.id) – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menepis tuduhan Rusia yang menyebut Ukraina berupaya menyerang kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Novgorod. Tuduhan tersebut dinilai sebagai narasi yang direkayasa dan dimanfaatkan Moskow untuk melemahkan perkembangan pembicaraan perdamaian antara Ukraina dan Amerika Serikat.
Melalui pernyataan yang disampaikan di media sosial, Zelenskyy menilai Rusia tengah berusaha mengaburkan kemajuan diplomasi yang mulai terbangun sekaligus menciptakan justifikasi untuk melanjutkan serangan militer, termasuk terhadap ibu kota Kyiv dan gedung-gedung pemerintahan Ukraina.
Zelenskyy menegaskan bahwa klaim terkait dugaan serangan ke kediaman Putin tidak memiliki dasar fakta dan dipandang sebagai bagian dari strategi Rusia untuk menghindari langkah-langkah substantif dalam mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak 2022.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan bahwa dugaan serangan tersebut berpotensi memengaruhi posisi Moskow dalam negosiasi dan membuka kemungkinan serangan balasan. Pernyataan itu memicu respons keras dari pihak Ukraina.
Bantahan juga disampaikan oleh Duta Besar Ukraina untuk Turki, Andrii Sybiha, yang menilai Rusia tidak pernah mampu menunjukkan bukti yang dapat diverifikasi atas tuduhan tersebut. Kyiv menegaskan bahwa tidak pernah terjadi serangan semacam itu dan menilai isu tersebut sengaja dihembuskan untuk mengganggu proses diplomatik yang sedang berjalan.
Isu ini mencuat ke ruang publik internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Presiden Vladimir Putin telah menyampaikan kepadanya klaim mengenai dugaan serangan tersebut. Informasi itu disampaikan Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump menyatakan ketidaksetujuannya terhadap eskalasi semacam itu dan mengakui bahwa dirinya mengetahui klaim tersebut langsung dari Putin dalam percakapan yang dinilainya berjalan positif.
Meski demikian, Trump mengakui bahwa hingga saat itu belum ada kepastian mengenai bukti yang mendukung tuduhan Rusia. Ia menyatakan bahwa pihaknya masih akan menelusuri kebenaran klaim tersebut di tengah upaya Amerika Serikat memediasi penyelesaian konflik.
Di sisi lain, Zelenskyy mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah mengajukan tawaran jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina sebagai bagian dari rancangan rencana perdamaian yang terdiri dari 20 poin. Jaminan tersebut dirancang berlaku selama 15 tahun, meskipun status wilayah Donbas hingga kini masih menjadi persoalan krusial dalam perundingan.
Zelenskyy menilai pengalaman masa lalu, termasuk Memorandum Budapest 1994 yang didukung Amerika Serikat dan Inggris, tidak memberikan perlindungan nyata bagi Ukraina. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mekanisme keamanan yang lebih kuat, termasuk keberadaan pengawas internasional pascaperang.
Ukraina juga menyatakan keinginannya agar jaminan keamanan tersebut memiliki durasi yang jauh lebih panjang, bahkan hingga puluhan tahun, dan menilai hal itu dapat menjadi keputusan bersejarah dalam proses perdamaian. Namun demikian, Ukraina menegaskan tetap menolak menyerahkan wilayah kedaulatannya kepada Rusia.
Sebagai alternatif, Zelenskyy mengusulkan pembentukan zona demiliterisasi dan zona ekonomi bebas di sepanjang garis depan konflik, disertai penarikan pasukan dari kedua belah pihak. Rencana tersebut disebut berpotensi diajukan kepada publik Ukraina melalui referendum nasional apabila Rusia bersedia menyetujui gencatan senjata minimal selama 60 hari.
Sementara itu, Kremlin melalui juru bicara Dmitry Peskov menegaskan bahwa Ukraina harus menarik pasukannya dari kawasan yang disebut sebagai sabuk benteng di wilayah Donetsk. Rusia juga kembali mengingatkan risiko kehilangan wilayah tambahan bagi Ukraina apabila kesepakatan tidak tercapai. Wilayah Zaporizhzhia, yang berada di bawah kendali Rusia sejak invasi 2022, tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam perundingan.
Di tengah dinamika negosiasi tersebut, Rusia juga meningkatkan tekanan militer dengan menempatkan sistem rudal Oreshnik berkemampuan nuklir di Belarus. Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi bahwa sistem tersebut telah resmi masuk dalam dinas aktif. Kepala pasukan rudal Rusia menyebut jangkauan Oreshnik memungkinkan menjangkau seluruh wilayah Eropa.
Langkah ini kian menambah ketegangan geopolitik di saat upaya diplomasi belum menghasilkan terobosan nyata, meskipun Amerika Serikat menilai posisi Ukraina dan Rusia saat ini disebut lebih dekat dibandingkan sebelumnya dalam peluang mengakhiri perang. (ian)


as a preferred source on Google



