Jakarta (beritajatim.id) – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran terkait pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menetapkan tenggat waktu hingga Selasa pukul 20.00 waktu setempat bagi Iran untuk mencapai kesepakatan. Ia menegaskan bahwa batas waktu tersebut bersifat final, meski sebelumnya beberapa tenggat serupa pernah berubah.
Trump menyampaikan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan militer untuk melumpuhkan infrastruktur vital Iran dalam waktu singkat jika tuntutan tidak dipenuhi. Pernyataan tersebut mencakup ancaman terhadap fasilitas energi dan infrastruktur sipil, yang memicu kekhawatiran luas di tingkat internasional.
Menanggapi retorika tersebut, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya mengingatkan bahwa infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi, tidak boleh menjadi target serangan dalam konflik bersenjata. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional.
Di tengah meningkatnya tekanan, Iran dilaporkan telah menyampaikan respons terhadap proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat melalui perantara Pakistan. Dokumen balasan tersebut berisi 10 poin yang menekankan tuntutan Iran, termasuk penghentian konflik secara permanen, pencabutan sanksi, serta jaminan keamanan di kawasan.
Sementara itu, pembicaraan diplomatik masih berlangsung melalui jalur tidak langsung yang melibatkan utusan khusus AS dan sejumlah negara mediator. Trump menyebut proses negosiasi berjalan positif, meski di sisi lain Iran menilai proposal yang diajukan Washington belum mencerminkan realitas di lapangan.
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang pasar energi global. Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas dunia mengalami penurunan lalu lintas kapal secara signifikan sejak eskalasi konflik pada akhir Februari 2026.
Dampak lanjutan mulai terasa pada perekonomian global. Direktur Pelaksana International Monetary Fund, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Menurut proyeksi terbaru, gangguan pasokan energi akibat konflik telah menyebabkan penutupan produksi minyak dalam jumlah besar. Kondisi tersebut diperkirakan akan mengubah arah pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya diprediksi stabil.
Di sisi lain, pemerintah Israel juga dilaporkan memberikan peringatan kepada Washington agar tidak terburu-buru menyepakati gencatan senjata tanpa mempertimbangkan risiko strategis. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut telah menyampaikan kekhawatiran tersebut dalam komunikasi langsung dengan Trump.
Hingga kini, situasi masih berkembang dengan cepat, sementara komunitas internasional terus mendorong penyelesaian diplomatik guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Ketidakpastian yang berkepanjangan di kawasan ini dinilai berpotensi memperdalam krisis energi global sekaligus meningkatkan tekanan terhadap ekonomi dunia. (hdl)


as a preferred source on Google



