Washington (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan ketidakpuasannya terhadap sikap Iran dalam perundingan terbaru terkait program nuklir di Jenewa. Meski demikian, ia belum mengambil keputusan apakah akan melancarkan serangan militer terhadap Teheran.
Pernyataan tersebut menjadi respons resmi pertama Washington setelah perundingan tingkat tinggi antara pejabat AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan pada Kamis waktu setempat.
Trump menegaskan bahwa opsi militer bukanlah pilihan utama, namun tetap terbuka jika diplomasi tidak menghasilkan “kesepakatan yang bermakna”.
Ada Kemajuan, Tapi Belum Final
Perundingan tidak langsung antara AS dan Iran dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Ia menyebut telah terjadi “kemajuan signifikan”, dan kedua pihak sepakat melanjutkan konsultasi di ibu kota masing-masing sebelum kembali bertemu.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Teheran, menyampaikan bahwa sejumlah isu telah menemukan titik temu, namun perbedaan mendasar masih ada.
Pertemuan teknis lanjutan dijadwalkan berlangsung di Wina pekan depan.
Di sisi lain, Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan keprihatinan karena belum diberi akses kembali ke fasilitas pengayaan uranium Iran sejak serangan sebelumnya. Dalam laporan internalnya kepada negara anggota, lembaga tersebut menekankan pentingnya inspeksi tanpa penundaan.
AS Tingkatkan Kekuatan Militer, Negara-Negara Keluarkan Peringatan
Seiring meningkatnya ketegangan, Washington melakukan pengerahan militer terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003. Ribuan personel tambahan, dua kapal induk, jet tempur, dan armada pendukung telah ditempatkan di kawasan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan opsi serangan tetap dipertimbangkan, namun menekankan bahwa AS tidak menginginkan perang berkepanjangan. Ia menyebut jalur diplomasi masih menjadi preferensi utama, tergantung respons Iran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan mengunjungi Israel untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan membahas isu Iran serta prioritas kawasan lainnya.
Kedutaan Besar AS di Israel telah mengizinkan staf non-darurat dan keluarga mereka meninggalkan negara tersebut selama penerbangan komersial masih tersedia.
Langkah serupa diambil sejumlah negara lain. Inggris menarik sementara staf kedutaannya di Teheran dan memperbarui panduan perjalanan. China, India, dan Kanada meminta warganya segera meninggalkan Iran. Jerman serta Prancis juga mengeluarkan imbauan perjalanan terkait potensi eskalasi konflik.
Iran Bantah Kembangkan Senjata Nuklir
AS dan sekutunya menuduh Iran bergerak menuju pengembangan senjata nuklir, terutama setelah Teheran meningkatkan tingkat pengayaan uranium mendekati level persenjataan.
Namun Iran secara konsisten membantah tudingan tersebut dan menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai, termasuk energi dan penelitian medis.
Ketegangan ini mengingatkan kembali pada dinamika 2018 ketika Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir sebelumnya dan menjatuhkan kembali sanksi berat terhadap Teheran.
Dampak Global dan Risiko Eskalasi
Ketidakpastian mengenai keputusan akhir Trump menimbulkan kekhawatiran luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Pasar energi global, jalur perdagangan, serta keamanan regional berpotensi terdampak jika konflik terbuka terjadi.
Meski peluang kesepakatan diplomatik belum sepenuhnya tertutup, sinyal pengerahan militer besar-besaran menunjukkan bahwa opsi keras tetap berada di meja kebijakan Washington.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada hasil konsultasi lanjutan di Wina serta kalkulasi strategis kedua negara dalam beberapa hari ke depan. (ian)


as a preferred source on Google



