Washington DC (beritajatim.id) – Pemerintah Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menangkap dua anggota keluarga mendiang jenderal Qasem Soleimani serta mencabut status imigrasi mereka. Langkah ini dilakukan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran.
Dua individu yang diamankan adalah Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya, yang diketahui tinggal di Los Angeles. Keduanya merupakan keponakan dan cucu dari Soleimani. Aparat federal menangkap mereka pada 3 April dan kini berada dalam tahanan U.S. Immigration and Customs Enforcement.
Selain penangkapan, Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga memerintahkan pencabutan status penduduk tetap sah (lawful permanent resident) milik Afshar. Pemerintah AS menilai Afshar aktif menyebarkan propaganda yang mendukung pemerintah Iran melalui media sosial selama tinggal di Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, Departemen Luar Negeri menyebut Afshar diduga mempromosikan narasi yang mendukung Islamic Revolutionary Guard Corps, yang oleh AS dikategorikan sebagai organisasi teroris. Ia juga disebut mengekspresikan dukungan terhadap kepemimpinan Iran serta sikap anti-Amerika.
Suami Afshar turut dikenai larangan masuk ke Amerika Serikat sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas terhadap individu yang dianggap memiliki keterkaitan dengan rezim Iran. Pemerintah AS menegaskan tidak akan memberikan ruang bagi pihak yang dinilai mendukung kelompok atau negara yang dianggap bermusuhan.
Langkah ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pemerintah AS juga mencabut status hukum Fatemeh Ardeshir-Larijani, anak dari pejabat tinggi keamanan Iran, yang bekerja sebagai dokter di negara bagian Georgia. Ia dilaporkan meninggalkan Amerika Serikat setelah pencabutan status tersebut.
Kebijakan ini muncul dalam konteks hubungan yang semakin tegang antara kedua negara, terutama sejak tewasnya Soleimani dalam serangan drone AS pada Januari 2020 di masa pemerintahan Donald Trump. Saat itu, Departemen Pertahanan AS menuduh Soleimani terlibat dalam perencanaan serangan terhadap diplomat dan personel militer Amerika di Timur Tengah.
Dalam perkembangan terbaru, Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Iran terkait jalur strategis energi global, Selat Hormuz. Jalur tersebut dikenal sebagai salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia, dengan porsi signifikan perdagangan energi global melintas di kawasan itu.
Pernyataan keras Trump terkait batas waktu bagi Iran untuk mengambil langkah tertentu mempertegas posisi Washington dalam menghadapi Teheran. Situasi ini menandai babak baru dalam dinamika hubungan kedua negara, di mana kebijakan keamanan, imigrasi, dan tekanan ekonomi berjalan beriringan.
Langkah penegakan hukum terhadap individu yang memiliki hubungan dengan Iran dinilai sebagai bagian dari strategi lebih luas Amerika Serikat untuk membatasi pengaruh Teheran, sekaligus memperkuat posisi dalam negosiasi dan konflik yang masih berlangsung. (hdl)


as a preferred source on Google



