Jakarta (beritajatim.id) – Warga Karibia masih berjibaku menghadapi dampak dahsyat bekas Badai Melissa, yang menerjang Jamaica sebagai salah satu badai paling mematikan dalam sejarah Atlantik.
Per Kamis (1/11/2025), korban tewas di kawasan itu telah melampaui 60 orang, dengan puluhan ribu warga masih terputus aliran listrik dan akses bantuan.
Melissa menghantam Jamaica pada 28 Oktober lalu dengan status Badai Kategori 5 dan kecepatan angin 185 mph, menjadikannya badai terkuat yang pernah melanda negara pulau tersebut.
Setelah meratakan Jamaica, badai ini kemudian melanda Kuba sebagai badai Kategori 3 sebelum bergerak melalui Bahama dan melewati dekat Bermuda.
Jamaica: Situasi Apokaliptik, Kerusakan Sistemik
Pemerintah Jamaica telah mengonfirmasi 28 kematian di pulau mereka, seperti disampaikan Perdana Menteri Andrew Holness melalui media sosial X.
Dana Morris Dixon, Menteri Pendidikan Jamaica, dalam konferensi pers (31/10) menyatakan, “Setiap nyawa yang melayang adalah tragedi besar. Kami belum pernah mengalami badai Kategori 5 di negara kami. Kehancuran di bagian barat tidak terbayangkan.”
Deskripsi kondisi di lapangan bahkan lebih suram. Brian Bogart, Direktur Program Pangan Dunia untuk Karibia, menggambarkan situasi di Black River, dekat lokasi mata badai menyentuh daratan, sebagai apokaliptik.
“Tampaknya seperti bom telah meledak di komunitas itu dan orang-orang masih dalam keadaan syok,” ujarnya.
Desmond McKenzie, Menteri Pemerintah Lokal Jamaica, melaporkan komunikasi masih terputus di lima wilayah paroki. Di Ibu Kota Trelawney Parish, Falmouth, kerusakan parah melanda gedung-gedung pemerintahan utama.
“Gedung municipial hancur. Panti jompo: hancur. Departemen jalan dan pekerjaan umum: hancur. Gedung pengadilan: hancur,” tutur McKenzie.
Sistem Kesehatan Kolaps dan Ancaman Wabah
Sektor kesehatan Jamaica juga mengalami pukulan berat. Lima rumah sakit besar terpaksa menghentikan atau memindahkan layanan mereka setelah mengalami kerusakan parah, termasuk satu di St. Elizabeth yang atapnya runtuh.
Christopher Tufton, Menteri Kesehatan Jamaica, mengungkapkan betapa trauma tenaga kesehatan yang bertugas saat badai. “Beberapa dari mereka harus menjaga pos mereka, tanpa tahu apa yang terjadi pada rumah dan orang yang mereka cintai.”
Rumah sakit yang masih beroperasi kini kebanjiran pasien, baik dari daerah yang rumah sakitnya tidak berfungsi maupun warga yang terluka selama proses pembersihan pascabadai. Tufton juga mengeluarkan peringatan tentang meningkatnya risiko penyakit akibat kontaminasi makanan dan air, serta populasi nyamuk dan tikus yang bertambah akibat genangan air. (hdl)


as a preferred source on Google



