Washington DC (beritajatim.id) – Trump gencatan senjata Israel Lebanon, ceasefire Israel Lebanon, Gedung Putih Israel Lebanon, Benjamin Netanyahu, Joseph Aoun, Hezbollah Lebanon, perang Israel Hezbollah, Iran proxy Timur Tengah, Trump Truth Social, JD Vance, Yechiel Leiter, Nada Hamadeh Moawad
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga pekan ke depan. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan perwakilan kedua negara yang digelar di Gedung Putih pada Kamis waktu setempat.
Trump menyebut pertemuan tersebut berlangsung positif dan membuka peluang kerja sama lebih lanjut. Melalui akun Truth Social miliknya, Trump menegaskan Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon guna memperkuat kemampuan negara itu dalam menjaga stabilitas dan melindungi diri dari ancaman kelompok militan Hezbollah.
Dalam keterangannya, Trump juga menyampaikan rencana untuk mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun ke Gedung Putih dalam waktu dekat. Pertemuan lanjutan tersebut diperkirakan menjadi bagian dari upaya diplomatik AS untuk meredakan ketegangan kawasan yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, gencatan senjata selama 10 hari diumumkan pada 16 April, yang menghentikan sementara pertempuran antara Israel dan Hezbollah. Konflik tersebut sempat memicu kekhawatiran akan meluasnya eskalasi di perbatasan Israel-Lebanon.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter, yang hadir dalam pertemuan di Oval Office, menyebut situasi saat ini menjadi momen paling dekat bagi Israel dan Lebanon untuk membuka peluang perdamaian. Ia menilai langkah diplomatik ini sebagai perkembangan penting yang telah lama dinantikan.
Sementara itu, Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh Moawad juga menyampaikan apresiasi kepada Trump atas peran yang ia ambil dalam mendorong terciptanya momentum diplomasi. Moawad menilai pertemuan tersebut dapat menjadi titik awal bagi Lebanon untuk memperkuat stabilitas nasionalnya.
Di sisi lain, Trump kembali menegaskan sikap Washington terhadap Iran. Ia menyatakan Amerika Serikat tetap menuntut agar Iran menghentikan dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah, termasuk Hezbollah di Lebanon. Trump menilai penghentian dukungan tersebut merupakan syarat penting dalam kesepakatan apa pun antara Washington dan Teheran, khususnya dalam upaya mengakhiri perang AS dengan Iran.
Selain isu Israel-Lebanon, perkembangan lain di kawasan juga menarik perhatian. Pakistan disebut masih menerapkan pengamanan ketat di ibu kota Islamabad meskipun belum ada tanda-tanda perundingan damai antara AS dan Iran akan digelar di sana. Selama hampir sepekan, sejumlah ruas jalan menuju pusat pemerintahan ditutup dan area administratif utama atau Red Zone dijaga ketat aparat keamanan.
Pejabat pemerintah Pakistan menyatakan langkah tersebut diambil karena kemungkinan kedatangan delegasi dari kedua negara bisa terjadi sewaktu-waktu. Situasi ini bahkan berdampak pada aktivitas ekonomi di kawasan Blue Area, dengan sejumlah pasar sepi dan distribusi barang terganggu.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga mengumumkan pemberian hadiah sebesar 10 juta dolar AS bagi informasi yang mengarah pada pemimpin milisi Syiah pro-Iran di Irak, Kataib Sayyid al-Shuhada. Program Rewards for Justice menyebut sosok yang dicari adalah Hashim Finyan Rahim al-Saraji, yang dituding bertanggung jawab atas serangan terhadap warga sipil Irak serta fasilitas diplomatik AS.
Di belahan dunia lain, pemerintah Guyana menyatakan sebuah kapal tanker yang disita Amerika Serikat di Asia karena diduga mengangkut minyak Iran yang terkena sanksi, ternyata menggunakan bendera Guyana secara ilegal. Otoritas maritim Guyana menegaskan kapal tersebut tidak terdaftar dalam registri resmi negaranya, meskipun menggunakan identitas yang mengklaim berasal dari Guyana.
Serangkaian perkembangan ini menunjukkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih berlanjut, sementara Amerika Serikat terus memainkan peran utama dalam upaya diplomasi sekaligus tekanan terhadap kelompok bersenjata dan negara-negara yang dianggap mendukungnya. Perpanjangan gencatan senjata Israel-Lebanon menjadi salah satu langkah terbaru yang kini menjadi sorotan komunitas internasional. (ian)


as a preferred source on Google



