Jakarta (beritajatim.id) – Badan PBB untuk anak-anak, UNICEF, mengungkap kondisi memprihatinkan yang dialami jutaan anak di kawasan Sahel Tengah, Afrika. Dalam pernyataan resminya, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, menyebut sekitar 7,5 juta anak saat ini membutuhkan bantuan kemanusiaan mendesak di wilayah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah kunjungan lapangan selama 14 hari ke tiga negara, yakni Niger, Burkina Faso, dan Mali. Kawasan ini diketahui terus dilanda konflik bersenjata, dampak perubahan iklim, serta krisis sosial-ekonomi yang berkepanjangan.
Ted Chaiban menyoroti bahwa situasi keamanan yang tidak stabil telah memperparah kondisi anak-anak, termasuk meningkatnya risiko kehilangan nyawa. Dalam laporan terbaru, kekerasan yang terjadi di Mali menjadi gambaran nyata rapuhnya kondisi perlindungan anak di wilayah tersebut.
Selain konflik, dampak krisis juga terlihat dari tingginya angka pengungsian. Lebih dari 3,6 juta orang dilaporkan kehilangan tempat tinggal akibat kekerasan dan instabilitas, yang berdampak langsung pada kehidupan anak-anak dan keluarga mereka.
Meski demikian, Chaiban mencatat adanya harapan dari masyarakat lokal. Di tengah keterbatasan, sejumlah komunitas mulai bangkit dengan membuka kembali aktivitas ekonomi seperti pasar, serta menjaga solidaritas sosial. Anak-anak pun tetap berusaha menjalani kehidupan sehari-hari meski dalam kondisi sulit.
Di sisi kebijakan, pemerintah di tiga negara tersebut dinilai mulai menunjukkan komitmen terhadap pembangunan sumber daya manusia. Upaya peningkatan layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pencatatan sipil menjadi fokus penting dalam memperkuat stabilitas jangka panjang.
Di Niger, reformasi administrasi kependudukan telah meningkatkan angka pencatatan kelahiran secara signifikan. Sementara di Burkina Faso, alokasi anggaran besar untuk sektor pendidikan dan kesehatan menunjukkan prioritas pada layanan sosial. Adapun di Mali, cakupan imunisasi anak telah mencapai lebih dari 80 persen, mendekati target perlindungan menyeluruh bagi anak-anak.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 1.500 pelanggaran berat terhadap anak sepanjang konflik, termasuk pembunuhan, penculikan, serta perekrutan oleh kelompok bersenjata. Selain itu, lebih dari 8.400 sekolah dilaporkan tidak dapat diakses sepanjang 2025, memperburuk akses pendidikan bagi anak-anak.
Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, trauma psikologis, hingga terhambatnya perkembangan anak secara menyeluruh. UNICEF menilai bahwa anak-anak yang tumbuh dalam situasi kekerasan akan menghadapi dampak jangka panjang terhadap pembangunan sosial dan ekonomi.
Dalam kunjungannya, Chaiban juga mencatat kesamaan pandangan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, terkait urgensi perlindungan anak dan pemulihan layanan dasar. Upaya tersebut mencakup pemulihan akses pendidikan, layanan kesehatan, serta menciptakan kondisi aman bagi pengungsi untuk kembali ke tempat asal mereka.
UNICEF menegaskan pentingnya dukungan global untuk kawasan Sahel Tengah. Meski anak-anak di wilayah ini menunjukkan ketangguhan luar biasa, kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kebutuhan mendesak mereka.
Organisasi tersebut juga menyoroti peran tim lapangan UNICEF yang terus bekerja mendukung pemerintah dan masyarakat, terutama dalam memperkuat sistem layanan dasar dan membangun ketahanan komunitas.
Krisis berkepanjangan di Sahel Tengah menjadi peringatan bagi komunitas internasional bahwa jutaan anak masih membutuhkan perhatian serius dan tindakan nyata untuk memastikan masa depan yang lebih aman dan layak. (ian)


as a preferred source on Google



