Washington (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negosiasi damai antara Washington dan Teheran telah memasuki tahap akhir. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait keamanan di Selat Hormuz serta meningkatnya kesiagaan militer Israel.
Trump mengatakan pemerintahannya masih memberikan kesempatan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan diplomatik dalam beberapa hari ke depan. Namun, ia juga memberi sinyal bahwa Amerika Serikat dapat mengambil langkah keras apabila pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan.
Menurut Trump, Washington tidak tertarik pada kesepakatan terbatas yang hanya berfokus pada pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. Pemerintah AS disebut menginginkan penyelesaian yang lebih menyeluruh terkait konflik dan stabilitas kawasan.
Dalam keterangannya kepada media, Trump juga mengungkap telah melakukan percakapan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Turki dinilai menjadi salah satu negara yang berperan penting dalam upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, Iran mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan Amerika Serikat masih berlangsung melalui jalur mediasi Pakistan. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut Teheran tengah mempelajari proposal terbaru yang diajukan Washington.
Baghaei menjelaskan, pertukaran pesan antara kedua negara dilakukan beberapa kali, termasuk melalui kunjungan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi ke Teheran. Iran disebut berupaya memastikan penyelesaian konflik di berbagai kawasan, termasuk Lebanon, sambil menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan serta penghentian tindakan yang dianggap mengganggu aktivitas pelayaran Iran.
Meski tetap membuka jalur diplomasi, Iran mengaku masih menyimpan ketidakpercayaan terhadap Washington akibat rekam jejak hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Iran juga menegaskan komitmennya bersama Oman untuk membangun mekanisme keamanan jangka panjang di Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut menjadi salah satu titik strategis perdagangan energi dunia yang selama beberapa bulan terakhir berada dalam sorotan internasional akibat eskalasi konflik.
Laporan media semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, menyebut Amerika Serikat telah mengirim rancangan proposal baru kepada Teheran melalui Pakistan setelah Iran mengajukan proposal berisi 14 poin. Hingga kini, proses negosiasi masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui platform X menegaskan Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi dan berupaya menghindari perang. Ia menilai tekanan terhadap Iran tidak akan memaksa negaranya menyerah.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps memperingatkan bahwa konflik dapat meluas ke luar kawasan Asia Barat apabila serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kembali terjadi.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi juga memperingatkan bahwa perang baru melawan Iran akan membawa konsekuensi besar bagi Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan setelah muncul laporan Kongres AS terkait kerugian sejumlah pesawat militer dalam konflik terakhir.
Di tengah proses diplomasi tersebut, militer Israel meningkatkan status kewaspadaan. Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir menyatakan Pasukan Pertahanan Israel berada pada tingkat siaga tertinggi.
Menurut pernyataan militer Israel, kesiapan pasukan terus diperkuat di sejumlah wilayah perbatasan seiring perkembangan konflik multi-front yang melibatkan Iran dan sekutunya.
Ketegangan juga terlihat di Selat Hormuz. Angkatan Laut IRGC mengklaim sebanyak 26 kapal, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, melintasi jalur tersebut dalam 24 jam terakhir di bawah koordinasi pasukan Iran.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan pasukan marinir AS sempat menghentikan dan memeriksa kapal tanker berbendera Iran di Teluk Oman sebelum mengarahkan kapal tersebut mengubah jalur pelayaran.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Korea Selatan mengonfirmasi sebuah kapal tanker minyak asal negaranya berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman. Peristiwa itu menjadi pelayaran pertama kapal Korea Selatan melalui jalur tersebut sejak ketegangan terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat pada Februari lalu. (ian)


as a preferred source on Google



