Surabaya (beritajatim.id) – Tidak semua orang memiliki perjalanan asmara yang sama. Sebagian menemukan pasangan hidup dan menikah di usia muda, sementara yang lain memilih tetap melajang hingga usia yang lebih matang. Perbedaan ini kerap memunculkan pertanyaan di masyarakat: apakah pria yang belum menikah sebenarnya takut berkomitmen?
Pandangan bahwa pria cenderung menghindari hubungan serius sudah lama berkembang. Sosok pria lajang sering digambarkan sebagai individu yang menyukai kebebasan, sulit ditebak, dan enggan terikat dalam hubungan jangka panjang. Namun, para ahli menilai realitasnya jauh lebih kompleks dibanding stereotip yang selama ini berkembang.
Dalam dunia psikologi, terdapat istilah gamofobia, yakni ketakutan berlebihan terhadap pernikahan atau komitmen jangka panjang. Kondisi ini memang dapat dialami oleh sebagian orang dan dipicu oleh berbagai faktor.
Beberapa penyebab yang sering dikaitkan dengan gamofobia antara lain pengalaman hubungan yang buruk di masa lalu, trauma emosional, kekhawatiran kehilangan kebebasan pribadi, hingga rasa takut mengambil keputusan yang salah dalam memilih pasangan hidup.
Meski demikian, para pakar menegaskan bahwa tidak semua pria yang belum menikah dapat dikategorikan mengalami gamofobia. Banyak di antaranya justru belum mengambil keputusan menikah karena merasa belum siap secara emosional maupun finansial.
Sejumlah penelitian yang dikutip Psychology Today menunjukkan adanya perbedaan tingkat kesiapan berkomitmen antara pria dan wanita. Dalam banyak kasus, wanita cenderung memiliki kesiapan yang lebih tinggi untuk membangun hubungan jangka panjang dan melangkah ke jenjang pernikahan.
Sebaliknya, keinginan pria untuk menikah sering kali lebih dipengaruhi oleh berbagai aspek kehidupan, mulai dari karier, kondisi ekonomi, target pribadi, hingga keyakinan bahwa dirinya benar-benar siap memasuki fase kehidupan baru.
Faktor-faktor tersebut membuat keputusan menikah pada pria menjadi lebih beragam. Kehadiran pasangan yang tepat memang penting, tetapi tidak selalu menjadi satu-satunya penentu seseorang siap berkomitmen.
Dalam banyak budaya, pernikahan sering dianggap sebagai salah satu tonggak penting menuju kedewasaan. Menikah dipersepsikan sebagai langkah yang menunjukkan stabilitas hidup, tanggung jawab, dan kematangan emosional.
Karena itu, sebagian pria memilih menunggu hingga merasa telah mencapai kondisi yang dianggap ideal sebelum memutuskan untuk membangun rumah tangga. Mereka ingin memastikan bahwa aspek pekerjaan, finansial, maupun tujuan hidup telah berada pada jalur yang diinginkan.
Pandangan ini membuat proses menuju pernikahan menjadi lebih panjang bagi sebagian orang, bukan karena takut berkomitmen, melainkan karena ingin memasuki pernikahan dengan kesiapan yang lebih matang.
Menurut Jon Patrick Hatcher, M.A., penulis buku 101 Ways to Conquer Teen Anxiety dan A Teen’s Guide to Managing Anxiety in a World of Uncertainty, terdapat pula kelompok pria yang merasa nyaman menjalani hubungan dengan ruang pribadi yang cukup luas.
Mereka cenderung menyukai pasangan yang mandiri, memiliki aktivitas sendiri, dan tidak menggantungkan seluruh kebutuhan emosional pada hubungan romantis. Bagi tipe ini, kebebasan dan kemandirian tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan, bahkan ketika sedang menjalin hubungan yang serius.
Keinginan mempertahankan ruang pribadi tersebut tidak selalu berarti menolak komitmen. Sebaliknya, mereka hanya memiliki cara pandang berbeda mengenai bagaimana hubungan yang sehat dan seimbang seharusnya dijalani.
Para ahli menilai keputusan menikah tidak dapat disederhanakan hanya pada keberadaan pasangan atau ketakutan terhadap komitmen. Ada banyak faktor yang memengaruhi seseorang untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Kesiapan emosional, stabilitas hidup, tujuan masa depan, kondisi finansial, hingga nilai-nilai pribadi menjadi pertimbangan penting yang sering kali menentukan kapan seseorang merasa siap menikah.
Karena itu, status lajang pada seorang pria tidak selalu menunjukkan adanya ketakutan terhadap hubungan serius. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut justru mencerminkan proses pertimbangan yang matang terkait masa depan dan kehidupan yang ingin dibangun bersama pasangan.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki waktu dan perjalanan yang berbeda dalam menemukan serta menjalani komitmen. Menikah bukan sekadar tentang bertemu orang yang tepat, tetapi juga tentang merasa siap untuk menjalani tanggung jawab dan perubahan besar yang menyertainya. (aga)


as a preferred source on Google




