Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»News»Kisah Alumni UNAIR Kurnia Ramadhani: Dari Puskesmas di Probolinggo hingga Riset Kesehatan Publik di Belanda

Kisah Alumni UNAIR Kurnia Ramadhani: Dari Puskesmas di Probolinggo hingga Riset Kesehatan Publik di Belanda

Hendro D. LaksonoHendro D. Laksono News 30 Juni 2026
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Kurnia Ramadhani
Kurnia Ramadhani

Surabaya (beritajatim.id) – Perjalanan karier seorang tenaga kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari laboratorium atau ruang akademik. Bagi Kurnia Ramadhani, alumnus peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2005, pengabdian di tingkat puskesmas justru menjadi fondasi yang mengantarkannya menembus panggung akademik internasional.

Berbekal pengalaman panjang mendampingi masyarakat di Kabupaten Probolinggo, Kurnia kini tengah menempuh studi doktoral (PhD) di University Medical Center Groningen, Belanda, melalui beasiswa LPDP. Penelitiannya berfokus pada pencegahan anemia remaja sebagai bagian dari strategi jangka panjang menekan angka stunting dan kematian ibu di Indonesia.

Karier Kurnia dimulai sebagai penyuluh kesehatan di RSUD Waluyo Jati pada 2010. Setelah menyelesaikan pendidikan magister di bidang Promosi Kesehatan, ia memperkuat kapasitas kepemimpinannya melalui sejumlah pelatihan internasional di Belanda dan Kanada sebelum dipercaya memimpin Puskesmas Tongas selama dua periode hingga 2025.

Selama memimpin fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama tersebut, Kurnia dikenal mengembangkan pendekatan berbasis masyarakat yang mengutamakan perubahan perilaku melalui jejaring sosial di lingkungan sekitar.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah pemberdayaan pedagang sayur keliling atau wlijo sebagai mitra edukasi pencegahan stunting. Melalui interaksi sehari-hari dengan para ibu rumah tangga, para pedagang dilibatkan untuk menyampaikan pesan mengenai gizi keluarga dan kesehatan anak.

Pendekatan sederhana tersebut terbukti memberikan dampak signifikan. Berdasarkan data yang dipaparkan Kurnia, jumlah kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Tongas berhasil ditekan dari 627 anak pada 2019 menjadi sekitar 80 anak pada 2022. Menurutnya, edukasi kesehatan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui komunikasi yang akrab dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Baca Juga:  Tim Ekspedisi 79 Siap Kibarkan Merah Putih di Puncak Gunung Arjuno pada HUT RI ke-79

Selain fokus pada penurunan stunting, Kurnia juga mengembangkan program Mbakyu Sahabat Bumil (Pregna Sister) yang melibatkan kader masyarakat dalam pendampingan ibu hamil guna menekan angka kematian ibu. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga target nol kasus kematian ibu di wilayah kerjanya melalui deteksi dini, pendampingan, serta penguatan jejaring layanan kesehatan.

Keberhasilan program tersebut mendapat perhatian hingga tingkat internasional. Dengan dukungan Samya Stumo Fellowship, Kurnia memperoleh kesempatan mempresentasikan inovasi tersebut dalam Women’s Health Conference di National University of Singapore pada 2024.

Tidak berhenti pada pendekatan konvensional, pascapandemi COVID-19 ia juga mengembangkan layanan berbasis digital melalui WhatsApp Chatbot untuk edukasi stunting. Di sisi lain, ia menggagas gerakan Sister Gadis Sehat, sebuah inisiatif yang mendorong remaja putri memahami pentingnya pencegahan anemia sejak dini sebagai investasi kesehatan reproduksi di masa depan.

Menurut Kurnia, transformasi puskesmas tidak cukup hanya meningkatkan layanan kuratif, tetapi juga harus menjadi pusat gerakan sosial yang mampu membangun kesadaran kesehatan masyarakat sejak usia remaja.

Pengalaman panjang dalam membangun inovasi kesehatan berbasis komunitas menjadi modal penting ketika mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Kurnia berhasil lolos dalam satu kali proses seleksi dan kini menjalani riset doktoral di University Medical Center Groningen dengan dukungan Aletta Health Grant.

Riset yang sedang dikembangkannya menitikberatkan pada pencegahan anemia pada remaja Indonesia. Ia menilai upaya mengurangi stunting dan menekan angka kematian ibu harus dimulai jauh sebelum masa kehamilan, yakni dengan memastikan remaja putri memiliki status gizi yang baik.

Baca Juga:  Kapolres Sumenep Silaturahmi dengan Kepala Desa Jelang Pilkada 2024

Bagi Kurnia, penelitian di Belanda bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan sarana memperkuat dasar ilmiah bagi penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia. Pengalaman lapangan yang diperolehnya selama bertahun-tahun menjadi pijakan dalam merancang solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Di akhir kisahnya, Kurnia mengajak mahasiswa, khususnya di bidang kesehatan masyarakat, untuk aktif membangun pengalaman sejak masa kuliah. Menurutnya, keterlibatan langsung di tengah masyarakat akan membentuk portofolio sekaligus memperkuat kemampuan memahami persoalan kesehatan secara nyata.

Perjalanan Kurnia Ramadhani menunjukkan bahwa inovasi kesehatan tidak selalu lahir dari teknologi canggih atau anggaran besar. Pendekatan yang berakar pada kebutuhan masyarakat, didukung kolaborasi lintas sektor, dan dijalankan secara konsisten mampu menghasilkan dampak nyata, sekaligus membuka jalan menuju pengakuan di tingkat internasional. (aga)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Kesiapan Jawa Timur Dorong Perluasan Digitalisasi Bansos di Bawah Arahan Mendagri dan Dewan Ekonomi Nasional

30 Juni 2026 News
Khofifah dan Menteri PPPA meluncurkan PELITA ASN di Harganas 2026 untuk memperkuat ketahanan keluarga aparatur sipil negara di Jawa Timur.

Gubernur Khofifah dan Menteri PPPA Luncurkan PELITA ASN di Harganas 2026, Perkuat Ketahanan Keluarga untuk Tingkatkan Kinerja ASN

30 Juni 2026 News
Wapres Gibran mengapresiasi Khofifah karena ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen dan tetap menjadi provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia.

Wapres Gibran Beri Apresiasi, Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,96 Persen dan Tetap Jadi Penghasil Beras Terbesar RI

30 Juni 2026 News
Penertiban di Jl Niasa Surabaya

Pemkot Surabaya Tertibkan Jalan Nias dan Bangun Taman Baru, Eri Cahyadi Tegaskan Prioritas Kepentingan Publik

29 Juni 2026 News
Ketua Umum DPP Apkesmi, Kusnadi, SKM, M.Kes

Apkesmi Luncurkan Program Puskesmas Siap SEDIA untuk Perkuat Pencegahan Anemia dan Stunting di Indonesia

29 Juni 2026 News
Menag Nasaruddin Umar mengajak MUI memperkuat peran menjaga nilai Islam dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan nasional.

Menag Nasaruddin Umar Ajak MUI Perkuat Peran Jaga Nilai Islam dan Dukung Pembangunan Nasional

29 Juni 2026 News
Leave A Reply Cancel Reply

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa

Kesiapan Jawa Timur Dorong Perluasan Digitalisasi Bansos di Bawah Arahan Mendagri dan Dewan Ekonomi Nasional

30 Juni 2026
Berita Terbaru
Pertemuan Jaringan Pimpinan Perguruan Tinggi APTIK di Universitas Atmajaya Yogyakarta, (foto: Istimewa)

Pernyataan Moral APTIK: Sorot Kebebasan Sipil hingga Tata Kelola Pemerintahan

30 Juni 2026
Kurnia Ramadhani

Kisah Alumni UNAIR Kurnia Ramadhani: Dari Puskesmas di Probolinggo hingga Riset Kesehatan Publik di Belanda

30 Juni 2026
Khofifah dan Menteri PPPA meluncurkan PELITA ASN di Harganas 2026 untuk memperkuat ketahanan keluarga aparatur sipil negara di Jawa Timur.

Gubernur Khofifah dan Menteri PPPA Luncurkan PELITA ASN di Harganas 2026, Perkuat Ketahanan Keluarga untuk Tingkatkan Kinerja ASN

30 Juni 2026
SKK Migas Jabanusa dan KKKS mengusulkan optimalisasi instrumen fiskal bagi daerah pesisir guna mendukung pembangunan dan keberlanjutan sektor hulu migas.

SKK Migas Jabanusa dan KKKS Dorong Optimalisasi Fiskal Daerah Pesisir, Serahkan Rekomendasi Strategis ke Pemerintah Pusat

30 Juni 2026
Wapres Gibran mengapresiasi Khofifah karena ekonomi Jawa Timur tumbuh 5,96 persen dan tetap menjadi provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia.

Wapres Gibran Beri Apresiasi, Ekonomi Jawa Timur Tumbuh 5,96 Persen dan Tetap Jadi Penghasil Beras Terbesar RI

30 Juni 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.