Jakarta (beritajatim.id) – Jumlah korban tewas akibat dua gempa besar yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni 2026 terus bertambah. Hingga Jumat (10/7/2026), otoritas setempat mencatat sebanyak 4.118 orang meninggal dunia, sementara 16.740 lainnya mengalami luka-luka. Operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung di sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
Pembaruan data yang disampaikan Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, juga mencatat sebanyak 6.462 orang berhasil diselamatkan dari lokasi terdampak. Pemerintah telah menyalurkan bantuan kepada 86.794 keluarga yang menjadi korban bencana.
Selain itu, sebanyak 17.266 warga masih mengungsi di 89 lokasi penampungan sementara yang tersebar di berbagai daerah. Sebanyak 17.907 orang kehilangan tempat tinggal setelah rumah mereka mengalami kerusakan berat atau hancur akibat gempa.
Pemerintah Venezuela mengerahkan operasi tanggap darurat dalam skala besar dengan melibatkan 30.076 personel, 29.843 relawan, serta 3.454 tim penyelamat internasional. Hingga kini, aktivitas seismik masih terus berlangsung dengan total 1.171 gempa susulan tercatat sejak bencana utama terjadi.
Tim ahli internasional yang melakukan kajian terhadap dampak gempa menyebut banyak bangunan di wilayah terdampak runtuh secara hampir vertikal dalam fenomena yang dikenal sebagai pancake collapse. Kondisi tersebut terjadi ketika kolom penyangga bangunan gagal menahan beban sehingga setiap lantai runtuh dan bertumpuk satu sama lain.
Ketua tim ahli, Miyamoto Hideki, yang merupakan pakar desain struktur bangunan, menjelaskan bahwa fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi guncangan yang sangat kuat, minimnya tulangan baja pada banyak pilar bangunan, serta karakteristik tanah lunak yang umum ditemukan di kawasan pesisir Venezuela, khususnya di Negara Bagian La Guaira yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak.
Berdasarkan hasil investigasi sementara, tim memperkirakan sekitar 10.000 bangunan di La Guaira atau sekitar 13 persen dari total bangunan di wilayah tersebut mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi layak digunakan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan data resmi yang telah diumumkan pemerintah Venezuela.
Selain bangunan yang hancur total, para ahli juga memperkirakan sekitar 30.000 hingga 50.000 bangunan lainnya membutuhkan perbaikan karena mengalami retakan maupun kerusakan struktural yang berpotensi membahayakan penghuni.
Miyamoto berada di Venezuela untuk memberikan dukungan teknis kepada pemerintah setempat atas permintaan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Ia juga telah bertemu dengan Presiden Interim Venezuela, Delcy Rodriguez, guna menyampaikan temuan awal mengenai tingkat kerusakan bangunan dan langkah-langkah yang diperlukan dalam proses rekonstruksi.
Menurut Miyamoto, gempa yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni lalu termasuk salah satu bencana gempa paling dahsyat dalam dua dekade terakhir. Ia menempatkannya sejajar dengan gempa Sichuan di China pada 2008 serta rangkaian gempa yang melanda Turki selatan dan Suriah pada 2023.
Ia menilai proses pemulihan pascabencana harus diawali dengan pemetaan menyeluruh terhadap tingkat kerusakan bangunan, kondisi struktur, serta volume puing yang harus dibersihkan. Pengalaman Jepang dalam penanganan Gempa Besar Hanshin-Awaji tahun 1995 dinilai dapat menjadi referensi penting dalam mendukung proses rekonstruksi dan membangun kembali kawasan terdampak secara lebih aman dan tahan gempa. (hdl)


as a preferred source on Google




