Washington (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menghentikan sementara operasi militer terhadap Iran untuk memberikan ruang bagi jalur diplomasi. Namun, ia menegaskan bahwa serangan dapat kembali dilanjutkan apabila proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin (27/7) dalam wawancara dengan media daring Axios. Menurutnya, pembicaraan dengan Iran saat ini berlangsung cukup intens, tetapi pemerintahannya tidak akan memberikan waktu yang panjang apabila diplomasi menemui jalan buntu.
Trump mengungkapkan keputusan menangguhkan serangan yang diambil pada 24 Juli dilakukan setelah sejumlah negara mediator serta beberapa negara di kawasan Timur Tengah meminta Washington memberikan kesempatan terakhir bagi proses perundingan.
Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Namun, jika diplomasi gagal, Amerika Serikat siap kembali menggunakan kekuatan militer seperti yang dilakukan sebelumnya.
Dalam pernyataan terpisah kepada wartawan di atas Air Force One saat menuju Michigan, Trump menyebut Iran baru menunjukkan keinginan berdialog setelah mengalami tekanan militer dari Amerika Serikat. Ia tetap optimistis peluang penyelesaian masih ada, tetapi menegaskan seluruh opsi tetap berada di atas meja.
Presiden AS juga mengatakan koordinasi dengan pemerintah Israel terkait kebijakan terhadap Iran berjalan cukup erat. Meski mengakui masih terdapat beberapa perbedaan pandangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump menilai kedua negara memiliki posisi yang hampir sejalan dalam menghadapi ancaman dari Teheran.
Netanyahu dijadwalkan melakukan kunjungan ke Gedung Putih pada Selasa (28/7). Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas perkembangan program nuklir Iran, kondisi keamanan regional, serta sejumlah isu strategis lain di Timur Tengah.
Selain itu, Trump kembali menegaskan bahwa aset-aset Iran yang berada di bawah kendali Amerika Serikat akan digunakan untuk membayar kerusakan kapal-kapal yang diserang saat melintasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia dan beberapa kali menjadi titik ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat.
Di sisi lain, laporan dari sejumlah sumber regional menyebut proses mediasi yang difasilitasi Oman menunjukkan perkembangan positif, meski hingga kini belum menghasilkan kesepakatan resmi antara Washington dan Teheran.
Namun, pemerintah Iran membantah bahwa saat ini sedang berlangsung negosiasi langsung dengan Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa laporan mengenai permintaan Iran untuk membuka pembicaraan dengan Washington tidak sesuai dengan posisi resmi pemerintahnya. Ia menjelaskan Iran tetap memandang diplomasi sebagai instrumen penting dalam menjaga kepentingan nasional, tetapi hingga saat ini belum ada negosiasi langsung yang berlangsung.
Baghaei juga menyatakan bahwa kemungkinan dimulainya kembali dialog sangat bergantung pada perubahan sikap pemerintah Amerika Serikat. Menurutnya, Washington harus menunjukkan perilaku yang lebih bertanggung jawab dan menghormati hukum internasional sebelum pembicaraan dapat dilakukan.
Meski demikian, ia mengakui adanya peran negara-negara mediator yang terus menyampaikan pesan antara kedua pihak sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan.
Sementara itu, juru bicara militer Iran Amir Mohammad Akraminia mengatakan serangan Amerika Serikat telah berhenti selama dua hari terakhir. Sebagai respons, operasi balasan Iran juga disebut telah dihentikan untuk sementara waktu.
Di tengah perkembangan diplomatik tersebut, situasi keamanan kawasan Timur Tengah justru semakin kompleks.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertolak ke Washington pada Senin untuk bertemu Trump. Sebelum keberangkatannya, Netanyahu menyatakan pembicaraan akan difokuskan pada ancaman Iran, keamanan Israel, serta upaya memperluas kerja sama perdamaian di kawasan.
Media Israel melaporkan Netanyahu diperkirakan akan membawa informasi intelijen terbaru mengenai perkembangan program nuklir Iran. Ia juga disebut akan menyampaikan keberatan terhadap dorongan Amerika Serikat agar Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan dan Suriah, serta meminta Washington tidak menjual sistem persenjataan dan jet tempur F-35 kepada Turki.
Ketegangan regional juga meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak terhadap fasilitas yang terlibat dalam distribusi minyak mentah Arab Saudi menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas dugaan pelanggaran wilayah udara Yaman oleh drone Arab Saudi. Ia menyebut beberapa fasilitas strategis menjadi sasaran, meski tidak merinci lokasi maupun jumlah drone yang digunakan.
Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah drone yang diluncurkan dari wilayah Irak menuju fasilitas minyak di Provinsi Timur dan ibu kota Riyadh.
Pemerintah Saudi menuding drone tersebut diluncurkan oleh kelompok bersenjata di Irak yang didukung Iran.
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi sendiri terus meningkat sejak pekan lalu setelah kelompok tersebut memberlakukan larangan pelayaran terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah. Kebijakan itu diklaim sebagai respons atas blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai di Yaman.
Sejak saat itu, kedua pihak saling melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi, kapal-kapal yang melintas, serta sejumlah target militer.
Merespons tuduhan tersebut, Perdana Menteri Irak sekaligus Panglima Angkatan Bersenjata, Ali al-Zaidi, memerintahkan aparat keamanan menyelidiki dugaan peluncuran drone dari wilayah Irak menuju Arab Saudi.
Melalui pernyataan resmi yang disampaikan juru bicara militer Sabah al-Numan, pemerintah Irak menegaskan komitmennya untuk mencegah wilayahnya digunakan sebagai lokasi peluncuran serangan terhadap negara lain.
Pemerintah Irak juga memastikan akan menindak secara hukum pihak mana pun yang terbukti terlibat setelah proses investigasi selesai dilakukan.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa meskipun peluang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mulai kembali terbuka, situasi keamanan di Timur Tengah masih sangat rentan. Berbagai konflik yang melibatkan Iran, Israel, Arab Saudi, kelompok Houthi, hingga Irak berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan sekaligus keamanan jalur perdagangan energi global apabila eskalasi kembali meningkat. (hdl)


as a preferred source on Google




