Jakarta (beritajatim.id) – Tingkat dukungan publik terhadap kabinet Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengalami penurunan signifikan berdasarkan hasil survei nasional yang dirilis Mainichi Shimbun pada Minggu. Persentase masyarakat yang menyatakan puas terhadap pemerintahan Takaichi turun menjadi 41 persen, sementara tingkat ketidakpuasan meningkat menjadi 44 persen.
Hasil tersebut menunjukkan penurunan sebesar 10 poin persentase dibandingkan survei Mainichi Shimbun sebelumnya yang dilakukan pada 20–21 Juni, ketika tingkat persetujuan terhadap kabinet masih berada di angka 51 persen. Di saat yang sama, angka penolakan terhadap kabinet naik sembilan poin persentase dari 35 persen menjadi 44 persen.
Penurunan ini menjadi kali pertama tingkat dukungan terhadap kabinet Sanae Takaichi berada di bawah 50 persen dalam survei Mainichi Shimbun sejak ia menjabat sebagai perdana menteri pada Oktober tahun lalu. Selain itu, untuk pertama kalinya tingkat ketidakpuasan publik melampaui angka dukungan terhadap pemerintahannya.
Survei tersebut dilaksanakan secara nasional pada Sabtu dan Minggu, memberikan gambaran terbaru mengenai persepsi masyarakat Jepang terhadap kinerja kabinet di tengah berbagai tantangan politik dan ekonomi yang dihadapi pemerintah.
Hasil jajak pendapat Mainichi Shimbun juga memperkuat tren penurunan popularitas kabinet Takaichi yang sebelumnya telah tercermin dalam survei media nasional lainnya. Pekan lalu, Jiji Press merilis hasil survei yang menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kabinet berada di angka 49 persen, turun 5,3 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.
Dengan demikian, dalam kurun waktu sepekan, dua lembaga survei media nasional Jepang sama-sama mencatat bahwa tingkat dukungan terhadap kabinet Sanae Takaichi telah merosot hingga berada di bawah ambang 50 persen.
Perkembangan tersebut menjadi indikator penting bagi dinamika politik Jepang, mengingat tingkat kepuasan publik terhadap kabinet kerap menjadi tolok ukur stabilitas pemerintahan dan kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan yang dijalankan. Penurunan dukungan ini diperkirakan akan menjadi perhatian pemerintah Jepang dalam menyusun strategi politik maupun kebijakan publik pada periode mendatang. (hdl)


as a preferred source on Google



