Surabaya (beritajatim.id) – Merasa tertinggal dari teman sebaya, bingung menentukan karier, cemas soal masa depan, hingga mempertanyakan tujuan hidup menjadi pengalaman yang semakin sering dirasakan generasi muda. Kondisi tersebut dikenal sebagai Quarter Life Crisis (QLC), fase krisis emosional yang umumnya muncul pada usia 20 hingga awal 30 tahun.
Fenomena ini bukan sekadar tren yang ramai dibahas di media sosial. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa Quarter Life Crisis merupakan fase psikologis yang cukup umum terjadi ketika seseorang mulai memasuki dunia kerja, menghadapi tekanan finansial, membangun hubungan, hingga menentukan arah hidup.
Film Reality Bites (1994) menjadi salah satu gambaran yang masih relevan hingga kini. Tokoh Lelaina digambarkan memiliki idealisme tinggi terhadap pekerjaan, namun kesulitan menerima kenyataan bahwa dunia profesional tidak selalu berjalan sesuai harapan. Benturan antara mimpi dan realitas itu kemudian memicu tekanan emosional, masalah finansial, hingga konflik dengan orang-orang terdekat.
Situasi serupa kini banyak dialami generasi muda yang menghadapi ekspektasi tinggi di tengah persaingan karier dan kondisi ekonomi yang semakin kompleks.
Apa Itu Quarter Life Crisis?
Psikolog sekaligus peneliti dari University of Greenwich, Dr. Oliver Robinson, menjelaskan bahwa Quarter Life Crisis merupakan periode transisi menuju kedewasaan yang ditandai rasa terjebak, kebingungan identitas, hingga munculnya keinginan mengubah arah kehidupan.
Menurut Robinson, fase ini umumnya terjadi pada rentang usia 25-35 tahun, dengan puncaknya sekitar usia 30 tahun. Namun, tidak sedikit orang mulai mengalaminya sejak awal usia 20-an.
Ia membagi Quarter Life Crisis ke dalam empat tahapan, yaitu:
- merasa terjebak dalam kondisi tertentu, baik pekerjaan maupun hubungan;
- mulai menyadari perubahan perlu dilakukan;
- membangun kehidupan baru;
- menemukan kembali nilai, tujuan, dan komitmen hidup.
Dengan kata lain, Quarter Life Crisis bukan hanya tentang rasa cemas, tetapi juga menjadi proses pencarian identitas.
Karier dan Finansial Jadi Pemicu Terbesar
Salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari dunia kerja dan kondisi keuangan.
Banyak anak muda memiliki ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan. Mereka tidak hanya ingin memperoleh penghasilan, tetapi juga mencari profesi yang sesuai passion sekaligus mampu memberikan makna dalam hidup.
Harapan tersebut sering kali berbenturan dengan realitas.
Sebagian harus menerima pekerjaan yang tidak sesuai impian karena kebutuhan ekonomi, sementara sebagian lain merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya telah memiliki karier mapan, gaji tinggi, bahkan rumah sendiri.
Perbandingan sosial inilah yang membuat banyak orang mempertanyakan pencapaiannya sendiri.
Tekanan Keluarga Juga Berpengaruh
Quarter Life Crisis tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan.
Dalam banyak kasus, tekanan justru datang dari keluarga, terutama mengenai pilihan hidup.
Sebagian orang menghadapi tuntutan untuk segera menikah, kembali ke kampung halaman, atau meneruskan usaha keluarga. Di sisi lain, mereka masih ingin mengejar pendidikan, membangun karier, atau mewujudkan mimpi pribadi.
Perbedaan harapan tersebut kerap memunculkan konflik batin karena seseorang merasa harus memilih antara memenuhi ekspektasi keluarga atau mengikuti tujuan hidupnya sendiri.
Terlalu Banyak Pilihan Justru Membingungkan
Berbeda dengan generasi sebelumnya, anak muda saat ini memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap pendidikan, pekerjaan, hingga peluang membangun bisnis.
Ironisnya, banyaknya pilihan justru membuat proses mengambil keputusan menjadi semakin sulit.
Setiap hari media sosial dipenuhi kisah sukses orang lain, mulai dari pencapaian karier, bisnis, investasi, hingga gaya hidup.
Tanpa disadari, kondisi tersebut mendorong seseorang terus membandingkan hidupnya dengan orang lain dan merasa belum cukup berhasil.
Akibatnya, rasa tidak puas semakin mudah muncul meski sebenarnya sudah memiliki pencapaian yang baik.
Quarter Life Crisis Bukan Selalu Hal Buruk
Meski identik dengan kecemasan, Quarter Life Crisis juga dapat menjadi titik balik seseorang menemukan arah hidup.
Penelitian Joan Atwood dan Corinne Scholtz dalam Contemporary Family Therapy menyebut fase ini sering menjadi momentum untuk mengevaluasi nilai-nilai kehidupan, menentukan prioritas, dan memahami apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Seseorang mungkin berpindah pekerjaan beberapa kali, mencoba berbagai pengalaman baru, atau mengubah rencana hidup bukan karena gagal berkomitmen, melainkan sedang mencari makna yang paling sesuai dengan dirinya.
Pandangan serupa juga disampaikan Caroline Beaton melalui Psychology Today. Menurutnya, Quarter Life Crisis merupakan pengingat bahwa kehidupan terus berubah dan tidak ada kondisi yang bersifat permanen, termasuk rasa cemas yang sedang dialami.
Cara Menghadapi Quarter Life Crisis
Tidak ada cara instan mengatasi Quarter Life Crisis. Namun beberapa langkah berikut dapat membantu menghadapi fase tersebut dengan lebih sehat:
- menerima bahwa kebingungan merupakan bagian dari proses bertumbuh;
- berhenti membandingkan pencapaian dengan orang lain;
- menetapkan target yang realistis sesuai kondisi pribadi;
- terus mengembangkan keterampilan baru;
- menjaga kesehatan mental melalui istirahat, olahraga, maupun berdiskusi dengan orang terpercaya;
- mencari bantuan profesional apabila tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, Quarter Life Crisis bukanlah tanda seseorang gagal menjalani hidup.
Sebaliknya, fase ini bisa menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri lebih dalam, memahami tujuan hidup yang sebenarnya, sekaligus membangun masa depan yang lebih sesuai dengan nilai dan impian pribadi.
Karena itu, merasa bingung di usia 20-an bukan berarti tertinggal. Yang terpenting adalah tetap bergerak, belajar dari setiap pengalaman, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh sesuai waktunya. (aga)


as a preferred source on Google




