Jakarta (beritajatim.id) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengklaim melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Serangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang juga melibatkan Israel dan memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan dan pasokan energi dunia.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Minggu (15/3/2026) menyatakan telah melakukan serangan terkoordinasi terhadap beberapa instalasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Dalam pernyataan resmi, IRGC menyebut operasi tersebut melibatkan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone tempur.
Menurut IRGC, serangan tersebut menyasar beberapa pangkalan utama Amerika Serikat di kawasan, termasuk Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab, Ali Al Salem Air Base dan Udairi helicopter base di Kuwait, serta Sheikh Isa Air Base di Bahrain.
Militer Iran mengklaim serangan tersebut menghancurkan lebih dari 80 persen fasilitas utama di pangkalan yang menjadi target. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait klaim tersebut.
Serangan Juga Dilaporkan Terjadi di Arab Saudi
Selain pangkalan militer di beberapa negara Teluk, Iran juga merilis gambar yang diklaim menunjukkan kerusakan pada fasilitas pertahanan di Prince Sultan Air Base di Arab Saudi. Pangkalan ini diketahui menjadi instalasi militer utama Amerika Serikat di negara tersebut dan terletak sekitar 100 kilometer tenggara Riyadh.
Dokumen Gedung Putih sebelumnya menunjukkan lebih dari 2.300 personel militer AS ditempatkan di Arab Saudi pada 2024 untuk mendukung sistem pertahanan udara serta operasi pesawat tempur Amerika di kawasan.
Serangan ini disebut sebagai bagian dari gelombang ke-51 operasi militer Iran yang dinamakan True Promise 4.
Israel Tingkatkan Operasi Militer di Iran
Di sisi lain, Israel menyatakan telah memperluas operasi militernya di wilayah Iran. Pejabat Israel mengatakan Angkatan Udara Israel menyerang lebih dari 200 target di Iran bagian barat dan tengah dalam 24 jam terakhir.
Target serangan disebut mencakup pusat komando militer, sistem pertahanan udara, serta fasilitas produksi dan penyimpanan senjata.
Pejabat Israel juga menegaskan bahwa operasi militer akan terus berlanjut bersama Amerika Serikat hingga tujuan strategis mereka tercapai.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer kedua pihak. Sebelumnya seorang pejabat Amerika Serikat menyebut Israel memberi tahu Washington bahwa persediaan rudal pencegat balistiknya mulai menipis. Namun otoritas Israel kemudian membantah laporan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Israel dilaporkan telah menyetujui anggaran darurat sekitar 827 juta dolar AS untuk pengadaan tambahan sistem pertahanan.
Iran Bantah Meminta Gencatan Senjata
Di tengah meningkatnya konflik, muncul spekulasi mengenai kemungkinan gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah wawancara menyatakan Iran ingin melakukan negosiasi untuk menghentikan konflik, namun menurutnya syarat yang diajukan belum dapat diterima.
Pernyataan tersebut dibantah oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia menegaskan Teheran tidak pernah meminta gencatan senjata maupun membuka negosiasi baru dengan Washington.
Araghchi menyatakan Iran akan terus mempertahankan diri selama diperlukan hingga Amerika Serikat mengakui bahwa konflik ini tidak dapat dimenangkan.
Ia juga menyinggung program nuklir Iran, dengan mengatakan bahwa sebelum konflik memanas, Iran telah memberikan sejumlah konsesi dalam perundingan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat. Salah satu usulan yang diajukan adalah mengencerkan uranium yang diperkaya hingga 60 persen sebagai sinyal bahwa Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.
Dampak Global: Selat Hormuz dan Kekhawatiran Energi Dunia
Konflik yang semakin meluas juga mulai memengaruhi pasar energi global setelah Iran memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Sejumlah negara Eropa kini dilaporkan mulai menjajaki opsi diplomatik untuk mencegah gangguan berkepanjangan terhadap distribusi energi global.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian guna membahas perkembangan situasi terbaru.
Macron menyampaikan kekhawatiran bahwa eskalasi konflik berpotensi menyeret seluruh kawasan Timur Tengah ke dalam krisis besar yang berdampak jangka panjang. Ia menegaskan aktivitas militer Prancis di kawasan bersifat defensif untuk melindungi kepentingan nasional dan menjamin kebebasan navigasi.
Sementara itu Pezeshkian menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran, termasuk Pulau Kharg dan Abu Musa, memanfaatkan wilayah beberapa negara Teluk. Ia menegaskan Iran akan mempertahankan integritas wilayah dan keamanan nasionalnya. (ian)


as a preferred source on Google



