Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Lifestyle»Dari Kentongan ke Sound Horeg: Transformasi Tradisi Sahur di Jawa Timur

Dari Kentongan ke Sound Horeg: Transformasi Tradisi Sahur di Jawa Timur

Haris DwiHaris Dwi Lifestyle 3 Maret 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
ilustrasi AI

Surabaya (beritajatim.id) – Saat Ramadan tiba, membangunkan orang untuk sahur adalah bagian dari tradisi yang sudah mengakar di banyak daerah di Indonesia, terutama di Jawa Timur. Dulu, tugas ini dilakukan dengan cara sederhana: kentongan dipukul berirama, suara “sahur, sahur!” menggema di jalan-jalan kampung, dan kelompok patrol berkeliling membawa alat musik seadanya.

Namun, beberapa tahun terakhir, tradisi ini mengalami perubahan besar. Kini, suara sahur di banyak daerah di Jawa Timur bukan lagi datang dari kentongan atau rebana, melainkan dari dentuman keras “sound horeg” sebuah tren baru yang menggunakan sound system berdaya tinggi untuk membangunkan warga sahur. Dari musik sholawat EDM hingga dangdut koplo remix, “sound horeg” mengubah suasana dini hari Ramadan menjadi mirip konser mini di jalanan.

Fenomena ini pun memicu pro dan kontra. Ada yang menganggapnya sebagai inovasi kreatif, tetapi banyak pula yang merasa terganggu. Bagaimana perubahan ini terjadi? Dan apa dampaknya bagi masyarakat?

Patrol Sahur: Tradisi yang Mengakar

Sebelum teknologi mengambil alih, cara membangunkan sahur di Jawa Timur dilakukan secara tradisional. Kentongan—alat musik sederhana dari bambu atau kayu—menjadi andalan. Suaranya khas, cukup untuk membangunkan orang, tetapi tetap harmonis dengan suasana malam.

Selain kentongan, patrol sahur juga menjadi bagian dari kebudayaan Ramadan. Biasanya, kelompok anak muda berjalan keliling kampung dengan membawa alat musik sederhana seperti galon air, rebana, atau tamborin. Mereka tidak hanya memukul alat musik, tetapi juga bernyanyi atau meneriakkan ajakan sahur dengan penuh semangat.

“Dulu saya sering ikut patrol waktu kecil. Ada rasa kebanggaan karena bisa ikut serta dalam kegiatan Ramadan yang khas. Kami memukul kentongan sambil bernyanyi, kadang juga membawa galon air untuk menambah variasi suara,” kenang Hadi Suprapto, warga Malang berusia 50 tahun, dikutip dari Radar Malang, 1 Maret 2025.

Lebih dari sekadar membangunkan sahur, patrol sahur juga menjadi ajang kebersamaan. Masyarakat mengenal satu sama lain, pemuda desa bisa saling berinteraksi, dan tradisi ini menciptakan kenangan yang mendalam bagi mereka yang pernah mengalaminya.

Namun, seiring waktu, teknologi mengubah banyak hal, termasuk cara membangunkan sahur.

Lahirnya Tren Sound Horeg

Di era digital seperti sekarang, anak muda mulai mencari cara baru untuk tetap bisa berpartisipasi dalam tradisi sahur tanpa merasa ketinggalan zaman. Dari sinilah “sound horeg” lahir.

Baca Juga:  7 Minuman yang Baik untuk Kesehatan Ginjal, Cocok Dikonsumsi Saat Memulai Hari

Berawal dari Malang, tren ini berkembang pesat ke berbagai kota di Jawa Timur. Para pemuda mulai mengganti kentongan dan patrol dengan speaker besar yang dipasang di motor atau mobil bak terbuka. Musik yang dimainkan pun lebih modern—sholawat yang di-remix dengan irama EDM, dangdut koplo remix, hingga lagu-lagu viral dengan dentuman bass yang menggelegar.

“Awalnya, ini hanya eksperimen kecil. Kami penasaran bagaimana kalau sahur pakai speaker besar seperti di acara musik. Ternyata, banyak yang suka dan malah ikut-ikutan,” ungkap Fajar Satrio, salah satu penggiat sound horeg di Malang, dikutip dari Malang Times, 2 Maret 2025.

Menurut Fajar, sound horeg bukan sekadar membangunkan sahur, tetapi juga bentuk hiburan. “Dulu orang-orang pakai kentongan, tapi sekarang sudah ada teknologi. Ini bukan sekadar membangunkan sahur, tapi juga hiburan dan kebersamaan,” jelasnya.

Namun, tidak semua orang menyambut baik tren ini.

Pro dan Kontra Sound Horeg

Seiring popularitasnya yang meningkat, *sound horeg* juga menuai banyak kritik. Bagi sebagian orang, suara keras yang ditimbulkan sangat mengganggu ketenangan malam.

“Kalau suaranya masih dalam batas wajar, mungkin tidak masalah. Tapi kadang-kadang volumenya sampai bikin kaca rumah bergetar. Ini sahur atau konser?” keluh Siti Rohmah, warga Surabaya, dikutip dari Surabaya Pagi, 3 Maret 2025.

Beberapa warga bahkan mulai mengajukan keluhan ke pemerintah daerah, meminta agar sound horeg dibatasi atau dilarang di beberapa wilayah.

Menurut Dr. Anwar Hidayat, sosiolog dari Universitas Brawijaya, fenomena ini mencerminkan perubahan pola sosial di kalangan anak muda. “Sound horeg adalah bentuk ekspresi baru yang mencerminkan dinamika budaya digital. Anak muda ingin tetap terlibat dalam tradisi sahur, tetapi dengan cara yang lebih modern dan sesuai dengan gaya hidup mereka,” jelasnya, dikutip dari Kompas, 3 Maret 2025.

Namun, ia juga menekankan bahwa aspek sosial harus diperhitungkan. “Tradisi seharusnya memperkuat kebersamaan, bukan malah menimbulkan konflik. Jika sound horeg tidak dikendalikan, bisa jadi malah memicu perpecahan sosial,” tambahnya.

Aturan Baru untuk Sound Horeg

Dengan semakin banyaknya keluhan dari masyarakat, beberapa daerah mulai mengambil tindakan untuk mengatur penggunaan sound horeg.

Baca Juga:  Kampung Heritage Kayutangan: Destinasi Wisata Pilihan, Perkuat Citra Kota Kreatif Malang

Di Malang, misalnya, pemerintah daerah memberlakukan larangan penggunaan sound system dengan volume berlebihan setelah pukul 02.30 WIB. Langkah ini diambil setelah menerima banyak keluhan dari warga yang merasa terganggu.

“Kami tidak melarang kreativitas, tetapi ada batasan yang harus dihormati. Tujuannya agar semua warga bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan nyaman,” ujar Budi Santoso, perwakilan Dinas Ketertiban Kota Malang, dikutip dari Detik, 28 Februari 2025.

Selain Malang, kota-kota lain seperti Surabaya dan Sidoarjo juga mulai merancang aturan untuk membatasi volume dan jam operasional sound horeg.

Masa Depan Tradisi Sahur di Jawa Timur

Seiring berjalannya waktu, transformasi tradisi sahur di Jawa Timur masih akan terus berkembang. Beberapa pihak melihat sound horeg sebagai inovasi, sementara yang lain menganggapnya sebagai ancaman bagi nilai-nilai tradisional.

Salah satu solusi yang diusulkan adalah membuat aturan main yang lebih jelas. “Jika ada regulasi yang jelas, misalnya tentang volume maksimum atau jalur yang boleh dilalui, mungkin konflik bisa diminimalisir,” kata Rizal Maulana, seorang pegiat budaya yang mendukung patrol sahur, dikutip dari Tempo.co.

Selain itu, ada juga yang mengusulkan agar sound horeg lebih diarahkan ke kegiatan positif, seperti membangunkan sahur dengan lagu-lagu religi atau mengadakan kompetisi musik sahur yang lebih terorganisir.

“Sebenarnya ini bisa menjadi sesuatu yang baik jika dikemas dengan benar. Bayangkan kalau *sound horeg* diubah menjadi ajang dakwah kreatif atau festival Ramadan yang melibatkan banyak orang tanpa mengganggu warga,” ujar Dini Wahyuni, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga, dikutip dari CNN Indonesia, 27 Februari 2025.

Antara Inovasi dan Keseimbangan Sosial

Perubahan budaya tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikelola. Sound horeg mungkin menjadi wajah baru dari tradisi sahur, tetapi keseimbangan antara inovasi dan kenyamanan masyarakat harus tetap dijaga.

Bagaimanapun, tujuan utama dari semua ini tetaplah sama: mengingatkan umat Islam untuk sahur agar kuat menjalankan ibadah puasa dengan penuh semangat. Apakah tradisi membangunkan sahur di masa depan akan semakin modern atau kembali ke akar tradisionalnya? Waktu yang akan menjawab.

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
bangunkan sahur Ramadan ramadhan sound horeg sound horeg sahur tradisi sahur
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

17 Juli 2026 Lifestyle

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026 Lifestyle
Ilustrasi penderita flu (foto : xframe)

Kemarau Basah Juli 2026: Kasus Flu dan Batuk Meningkat, Ini Penyebab serta Cara Mencegahnya

7 Juli 2026 Lifestyle

Gen Z Ramai Pilih Intimate Wedding, Lebih Personal dan Jadi Investasi untuk Kehidupan Setelah Menikah

7 Juli 2026 Lifestyle

5 Cara Mengatasi Sulit Tidur Setelah Terbangun Tengah Malam, Jangan Langsung Lihat Jam!

3 Juli 2026 Lifestyle

9 Manfaat Mewarnai bagi Anak yang Jarang Disadari, Tak Sekadar Asah Kreativitas tetapi Dukung Tumbuh Kembang

2 Juli 2026 Lifestyle
Leave A Reply Cancel Reply

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

17 Juli 2026
Berita Terbaru
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko

Polri Gandeng UPH dan Komdigi Edukasi Mahasiswa Cegah Judi Online Lewat Program Polri Goes to Campus

16 Juli 2026
Polres Mojokerto Kota memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Silaturahmi Kamtibmas, mendorong keamanan, pelayanan publik, dan keselamatan berlalu lintas.

Polres Mojokerto Kota Perkuat Sinergi dengan Warga Lewat Silaturahmi Kamtibmas dan Ajak Jaga Keamanan Bersama

16 Juli 2026

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026

Setjen DPD RI Buka Program Magang Nasional 2026, Kuota 233 Orang dengan Uang Saku hingga Rp6 Juta

16 Juli 2026
Lionel Messi

Messi Antar Argentina Singkirkan Inggris dan Melaju ke Final Piala Dunia, Siap Tantang Spanyol

16 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.