Malang (beritajatim.id) – Kota Malang resmi menyandang predikat UNESCO Creative City of Media Arts, menempatkannya sejajar dengan kota-kota kreatif dunia seperti Seoul, Lyon, dan Toronto.
Salah satu elemen penting dalam penilaian tersebut adalah keberadaan Kampung Heritage Kayutangan, yang menjadi simbol perpaduan antara warisan budaya dan inovasi kreatif.
Predikat bergengsi ini tidak terlepas dari peran aktif Universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Diplomasi akademik yang dibangun UB berhasil mendatangkan Prof. Dr. Xiang (Hardy) Yong, UNESCO Chairholder on Creativity and Sustainable Development in Rural Areas sekaligus Dekan Institute for Cultural Industries, Peking University, ke Malang pada Februari 2025.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting karena menghasilkan rekomendasi resmi kepada UNESCO. Surat rekomendasi itu menegaskan kapasitas Malang dalam mengembangkan ekosistem seni media berbasis budaya lokal.
Dosen Bahasa dan Budaya Tiongkok FIB UB, Yang Nadia Miranti, M.Pd, menjelaskan bahwa salah satu lokasi yang dikunjungi Prof. Hardy adalah Kampung Heritage Kayutangan. “Kunjungan ke Kayutangan memberikan gambaran konkret tentang potensi industri budaya dan komitmen masyarakat Malang dalam menjaga warisan sejarah,” ujarnya.

Kampung Heritage Kayutangan: Cermin Masa Lalu yang Hidup
Diresmikan pada 22 April 2018, Kampung Heritage Kayutangan, atau Kampoeng Heritage Kajoetangan, merupakan kawasan wisata berbasis budaya yang terletak di jantung Kota Malang. Kampung ini mempertahankan keaslian bangunan kolonial, kuliner tempo dulu, hingga kehidupan sosial warganya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Mila Kurniawati, menjelaskan bahwa ada lima potensi utama yang dikembangkan di kawasan ini:
- Wisata bangunan tua dan bersejarah
- Situs religi
- Kuliner dan perdagangan lokal
- Eksplorasi sungai
- Event dan kegiatan budaya
Jejak Arsitektur dan Cerita di Tiap Sudut
Saat ini terdapat 23 spot rumah heritage yang menjadi daya tarik utama kampung ini. Bangunan-bangunan tersebut masih mempertahankan arsitektur aslinya, mencerminkan perjalanan sejarah dari masa kolonial hingga awal kemerdekaan.
Beberapa bangunan ikonik antara lain:
Rumah Namsin
Terletak di Jalan Basuki Rahmad No. 31, bangunan bergaya Nieuwe Bouwen ini berdiri sekitar tahun 1900-an dan sempat digunakan sebagai dealer motor serta toko mesin jahit Singer. Logo resmi Kampung Kayutangan bahkan terinspirasi dari rumah ini.
Rumah Jengki
Berarsitektur khas 1960-an dengan atap asimetris dan ventilasi kerawang, rumah di Gang 6 No. 976 ini menjadi contoh langka gaya jengki yang unik di Indonesia.
Rumah 1870
Sebagai bangunan tertua di kawasan ini, rumah di Gang 6 No. 988 masih mempertahankan bentuk aslinya sejak abad ke-19. Elemen arsitektur kolonial terlihat jelas pada ventilasi dan ukiran kayunya.
Rumah Cerobong
Dikenal karena tambahan cerobong asap di dapur untuk produksi daging rebus, rumah ini menunjukkan fungsi arsitektur yang berpadu dengan aktivitas ekonomi rumahan.
Gubuk Ningrat
Rumah keluarga Sahlan di Jalan AR. Hakim II No. 1190 menampilkan gaya jengki dengan ornamen lima tingkat di mahkotanya, melambangkan status sosial pemilik sebagai saudagar.
Rumah Jamu
Rumah tahun 1940-an milik keluarga Esther di Jalan AR. Hakim II No. 7 masih memproduksi jamu tradisional hasil racikan sendiri. Arsitekturnya memadukan unsur kolonial dan Tionghoa.
Warisan Hidup untuk Masa Depan
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Kampung Heritage Kayutangan kini menjadi living museum yang menghubungkan masa lalu dan masa depan. Keaslian bangunan, keramahan masyarakat, serta semangat pelestarian budaya menjadikannya simbol identitas Kota Malang.
Kampung ini juga memperkuat posisi Malang sebagai kota kreatif dunia, membuktikan bahwa pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi di era digital. (hdl)


as a preferred source on Google




