Mataram (beritajatim.id) – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menggelar kegiatan bertajuk Transformasi Ideologi: Jalan Menuju Wasathiyah di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu, 18 Oktober 2025 lalu.
Kegiatan ini menyasar para eks anggota Jamaah Islamiyah (JI) se-NTB guna membangun kesadaran baru akan pentingnya ideologi yang sehat, moderat, dan cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bertempat di Same Hotel, Mataram, acara ini diikuti oleh 126 orang eks anggota Jamaah Islamiyah, baik secara luring maupun daring.
Deradikalisasi dan Moderasi Beragama
Program ini merupakan bagian dari strategi deradikalisasi Densus 88 dalam memperkuat ketahanan ideologi di masyarakat. Tujuannya adalah membimbing para mantan anggota jaringan teroris agar menanggalkan paham kekerasan dan ekstremisme, serta mengadopsi prinsip wasathiyah atau moderasi dalam beragama.
“Transformasi ideologi ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran baru tentang Islam yang damai dan toleran, serta mengikis keraguan untuk setia pada NKRI,” ujar Kombes Pol Lili Warli, Kasatgaswil Densus 88 NTB.
Mantan Pimpinan JI Jadi Narasumber
Menariknya, kegiatan ini menghadirkan Ustad Para Wijayanto, mantan pimpinan Jamaah Islamiyah, sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, ia menyampaikan pesan kuat terkait pentingnya meninggalkan paham radikal dan mendukung ideologi negara.
“Kami telah mendeklarasikan pembubaran Jamaah Islamiyah dan kembali setia kepada NKRI. Islam mengajarkan jalan tengah, bukan ekstremisme,” ungkapnya di hadapan para peserta.
Ia juga menegaskan pentingnya menolak segala bentuk kekerasan serta mengajak para mantan anggota JI untuk menjalani kehidupan baru dengan ideologi yang lebih inklusif dan moderat.
Penguatan Peran Masyarakat dan Generasi Muda
Densus 88 juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menangkal penyebaran paham radikal dan intoleran. Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk membangun ketahanan sosial dan ideologis dari tingkat akar rumput.
“Kami ingin membangun narasi baru bahwa perubahan itu mungkin, dan wasathiyah adalah jalan terbaik menuju kedamaian dan keutuhan bangsa,” tambah Kombes Pol Lili.
Program transformasi ideologi seperti ini menjadi bagian penting dari upaya berkelanjutan dalam mencegah kebangkitan jaringan terorisme dan memperkuat loyalitas masyarakat terhadap ideologi Pancasila. Melalui pendekatan persuasif dan dialog terbuka, Densus 88 berharap para eks anggota kelompok radikal dapat berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. (hdl)


as a preferred source on Google




