Surabaya (beritajatim.id) – Dunia kerja tengah mengalami pergeseran besar. Generasi baru mulai masuk dan mengambil peran signifikan, yakni Generasi Z. Mereka lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era digital, dan kini hadir membawa budaya serta ekspektasi baru di kantor. Namun sayangnya, banyak dari mereka kerap dilabeli dengan stereotip negatif: malas, terlalu banyak menuntut, hingga dianggap kurang loyal terhadap perusahaan.
Padahal, bisa jadi masalahnya bukan terletak pada mereka, melainkan pada sistem kerja yang masih menggunakan pola lama. Sistem yang tidak sepenuhnya siap menghadapi dinamika generasi digital.
Banyak manajer senior merasa kewalahan menghadapi karyawan Gen Z. Dari kacamata mereka, pegawai baru ini tampak pasif, hanya menunggu instruksi, dan tidak menunjukkan inisiatif berarti. Tidak jarang muncul keluhan bahwa anak muda sekarang tidak bisa disuruh kerja keras seperti generasi sebelumnya.
Di sisi lain, Gen Z punya cerita berbeda. Mereka justru merasa frustrasi karena masuk ke dunia kerja yang penuh ambiguitas. Tugas sering datang tanpa arahan yang jelas, prioritas mudah bergeser, dan ekspektasi atasan kerap berubah tanpa komunikasi terbuka. Akibatnya, banyak energi mereka terkuras hanya untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya diinginkan perusahaan.
Fenomena ini bukan sekadar keluhan belaka. Berbagai studi internasional menunjukkan adanya kesenjangan ekspektasi antara generasi muda dengan sistem kerja konvensional.
Untuk memahami akar persoalan, kita perlu melihat cara Gen Z tumbuh. Mereka adalah generasi digital native. Sejak kecil, mereka terbiasa hidup dalam ekosistem yang serba jelas dan transparan.
Dalam dunia game, misalnya, aturan main ditulis dengan rinci. Dalam media sosial, umpan balik datang instan melalui like, komentar, atau share. Hampir semua aspek kehidupan mereka bisa diukur, dipantau, dan dievaluasi secara real time.
Tak heran jika kemudian mereka juga membawa ekspektasi serupa ke dunia kerja. Studi Deloitte menyebut, Gen Z sangat menghargai tujuan kerja yang jelas, arah pengembangan diri, serta kepastian mengenai peran mereka di dalam organisasi.
Sayangnya, budaya kerja tradisional sering kali berbanding terbalik. Banyak organisasi masih mengandalkan komunikasi implisit, aturan tak tertulis, hingga hierarki kaku. Di sinilah benturan terjadi: logika kerja yang diharapkan Gen Z tidak sejalan dengan kenyataan yang mereka hadapi.
Benturan ini tidak hanya membuat Gen Z merasa frustrasi, tetapi juga merugikan perusahaan. Alih-alih memaksimalkan energi, kreativitas, dan keterampilan digital mereka, organisasi malah kehilangan potensi besar akibat kesenjangan komunikasi.
Tak jarang, karyawan muda yang merasa tidak diberi arah memilih untuk resign lebih cepat. Fenomena ini sudah terlihat dari meningkatnya angka turnover di kalangan Gen Z di berbagai sektor.
Alih-alih terus menyalahkan generasi baru, perusahaan perlu mengevaluasi sistem kerja. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Komunikasi yang Jelas
Atasan perlu menyampaikan tujuan, target, dan prioritas secara spesifik. Gen Z menghargai transparansi dan arahan yang konkret. - Mentoring dan Feedback Rutin
Mereka terbiasa dengan umpan balik cepat. Sistem review tahunan tidak lagi relevan. Memberikan feedback mingguan atau bulanan akan lebih efektif. - Peluang Pengembangan Diri
Gen Z ingin belajar dan berkembang. Fasilitasi mereka dengan pelatihan, workshop, atau kesempatan rotasi kerja. - Fleksibilitas Kerja
Budaya kerja kaku dengan jam kantor panjang sering dianggap tidak efisien. Generasi ini lebih menghargai hasil dibanding sekadar kehadiran fisik. - Pemanfaatan Teknologi
Sebagai generasi digital, mereka cepat beradaptasi dengan tools baru. Perusahaan yang lamban mengadopsi teknologi justru akan kehilangan daya tarik di mata mereka.
Gen Z bukan generasi yang malas atau manja, melainkan generasi yang lahir dalam konteks berbeda. Mereka membawa pola pikir logis, terstruktur, dan terbiasa dengan sistem yang transparan. Jika dunia kerja masih bertahan pada cara lama, tentu benturan akan terus terjadi.
Daripada menyalahkan Gen Z, sudah saatnya organisasi melakukan pembaruan. Dengan komunikasi jelas, sistem yang lebih transparan, serta ruang pengembangan diri, energi generasi ini bisa dimaksimalkan. Pada akhirnya, dunia kerja yang sehat bukan hanya menguntungkan Gen Z, tapi juga membawa perusahaan menuju masa depan yang lebih relevan dan kompetitif. (aga)


as a preferred source on Google




