Surabaya (beritajatim.id) – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan perannya sebagai pusat inovasi kesehatan nasional. Kali ini, terobosan datang dari Fakultas Kedokteran melalui paten Pelat Dada Modifikasi Puruhito (PDMP), sebuah inovasi alat medis untuk pengobatan pasien dada cekung atau pectus excavatum.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Guru Besar FK UNAIR, Prof. Dr. dr. Med. Puruhito, SpB, SpBTKV, Subsp VE (K). Pelat dada ini dirancang sebagai alternatif teknik bedah konvensional yang selama ini dikenal mahal dan sulit dijangkau sebagian besar masyarakat.
Selama ini, penanganan pectus excavatum umumnya menggunakan Nuss Procedure, metode bedah toraks kardiovaskular yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi tersebut kerap menjadi kendala, terutama bagi pasien dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Kehadiran PDMP diharapkan mampu mengubah lanskap layanan bedah dada di Indonesia dengan pendekatan yang lebih efisien dan ekonomis.
Secara teknis, PDMP merupakan pengembangan dari metode Willithal-Hegemann, teknik bedah yang sebelumnya juga merupakan hasil modifikasi dari metode Ravitch. Keunggulan utama PDMP terletak pada desain dan materialnya. Pelat ini dibuat dari logam titanium dengan ketebalan 1,0 milimeter, lebih tipis dibanding pelat konvensional yang umumnya mencapai 1,5 milimeter.

Struktur PDMP dilengkapi lubang-lubang khusus yang memungkinkan pelat lebih mudah dibentuk mengikuti kontur dada pasien, namun tetap memiliki daya tahan terhadap perubahan bentuk setelah terpasang. Karakteristik ini dinilai mempermudah kerja ahli bedah toraks kardiovaskular sekaligus meningkatkan kenyamanan pasien.
Selain untuk dada cekung, inovasi ini juga membuka peluang penerapan pada kasus dada burung (pectus carinatum), sehingga cakupan manfaatnya menjadi lebih luas. Dari sisi pengembangan, Prof. Puruhito menargetkan PDMP akan tersedia dalam empat ukuran berbeda untuk menyesuaikan postur tubuh pasien.
Saat ini, implementasi klinis PDMP masih menunggu izin edar dari BPOM. Namun, rencana ke depan sudah disiapkan melalui program sosialisasi, presentasi ilmiah, serta workshop bagi para dokter bedah toraks kardiovaskular di berbagai daerah.
Dari perspektif jangka panjang, paten ini berpotensi mendorong transformasi layanan bedah dada di Indonesia. Dengan estimasi harga pelat sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, PDMP menawarkan selisih biaya yang sangat signifikan dibanding metode Nuss yang dapat mencapai puluhan juta rupiah. Hal ini membuka peluang akses pengobatan yang lebih merata, sekaligus memperkuat kemandirian alat kesehatan dalam negeri.
Inovasi ini tidak hanya menegaskan kontribusi UNAIR dalam riset terapan, tetapi juga menjadi contoh bagaimana hasil penelitian akademik dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Jika proses perizinan berjalan lancar, PDMP berpeluang menjadi standar baru dalam penanganan kelainan dinding dada di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. (ris)


as a preferred source on Google




