Jakarta (beritajatim.id) — Dalam rangka memperingati Hari Filsafat Sedunia, Paramadina Graduate School of Islamic Studies menggelar diskusi bertema Filsafat Telah Mati? Membincang Ulang Peran Filsafat dalam Kanvas Peradaban Kontemporer di Gedung Sevilla, Universitas Paramadina, Jakarta, pada Selasa (10/12/2024).
Acara ini menghadirkan tiga narasumber terkemuka: Dr. M. Subhi-Ibrahim, Dr. Budhi Munawar-Rachman, dan Dr. Luh Gede Saraswati Putri, yang membahas relevansi filsafat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Diskusi diawali dengan pembacaan puisi “Halaqoh Pulosirih” oleh Sofyan RH Zaid, diiringi petikan gitar oleh Ivan, mahasiswa Paramadina Graduate School of Islamic Studies.
Pembukaan ini menciptakan suasana yang mengharukan dan sarat makna, menggugah peserta untuk merenung lebih dalam tentang peran filsafat.
Dr. Luh Gede Saraswati Putri mengangkat isu tentang saintisme, pandangan yang menganggap ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya cara untuk memahami dunia. Ia menekankan perlunya mengembalikan perhatian pada Lebenswelt (penghayatan hidup sehari-hari) agar ilmu pengetahuan tidak kehilangan makna dan berhubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Saraswati juga mengkritisi dampak teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dapat menyeragamkan pemikiran manusia dan mengancam kreativitas individu. “AI dapat mengancam ruang kreatif dan menjadi alat kapitalisme global. Filsafat berperan penting untuk mengevaluasi dan mengatur AI dengan lebih manusiawi,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Budhi Munawar-Rachman membahas pentingnya filsafat dalam menghadapi transformasi digital. Filsafat, menurutnya, berfungsi sebagai kerangka kritis untuk menganalisis dampak teknologi terhadap manusia, termasuk isu-isu etika seperti privasi dan kecerdasan buatan.
“Filsafat harus menjadi ilmu kritis yang menilai perubahan zaman dan mempertanyakan metode tradisional dalam memperoleh pengetahuan,” jelas Budhi.
Sebagai penutup, Dr. M. Subhi-Ibrahim menegaskan kembali esensi filsafat sebagai philosophia atau cinta kebijaksanaan. Ia menekankan bahwa filsafat harus menjadi titik awal untuk memahami kehidupan dan mencapai kebijaksanaan dalam menghadapi realitas zaman.
“Filsafat tidak boleh kehilangan marwahnya. Sebagai philosophia, filsafat harus kembali ke esensinya,” kata Subhi-Ibrahim.
Diskusi ini membuktikan bahwa filsafat tidak mati, melainkan terus berkembang dan relevan di era kontemporer. Dengan daya kritisnya, filsafat tetap menjadi alat penting untuk menyelesaikan berbagai masalah global, seperti krisis ekologis, konflik internasional, dan dampak teknologi. (ted)


as a preferred source on Google




