Kilifi (beritajatim.id) – Upaya pemulihan pendidikan anak-anak terdampak bencana di Kenya mulai menunjukkan hasil. Di Kabupaten Kilifi, suara siswa kembali terdengar di lingkungan Tunzanani Primary School, satu tahun setelah sekolah tersebut rusak parah akibat banjir besar yang dipicu hujan El Niño.
Banjir yang melanda wilayah tersebut sempat menghancurkan ruang kelas dan memutus akses jalan menuju sekolah. Kondisi itu membuat banyak siswa terancam putus sekolah, termasuk Margaret yang kini berusia 13 tahun dan Gabriel yang berusia 12 tahun. Keduanya harus menyaksikan tempat belajar mereka rusak dan perlengkapan sekolah hanyut terbawa arus, sementara masa depan pendidikan mereka berada dalam ketidakpastian.
Melalui dukungan pendanaan dari Education Cannot Wait (ECW) dan Postcode Education Trust, UNICEF menjalankan program pendidikan darurat untuk memastikan anak-anak yang terdampak krisis tetap memperoleh hak belajar. Program ini menyediakan perlengkapan sekolah, bahan ajar, tas sekolah, serta tangki air guna menjamin ketersediaan air bersih bagi siswa dan tenaga pendidik.
Kenya saat ini berada di garis depan krisis iklim. Dampak kombinasi antara kekeringan berkepanjangan dan banjir besar menciptakan tantangan serius bagi keberlangsungan pendidikan. Dalam situasi pascabencana, banyak keluarga kehilangan sumber penghidupan sehingga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar anak untuk kembali ke sekolah.
Bagi Gabriel, program ini memungkinkan dirinya melanjutkan pendidikan dan menjaga aspirasinya di bidang sains dan medis. Sementara itu, Margaret turut merasakan manfaat dukungan holistik yang diberikan. UNICEF juga memastikan ketersediaan perlengkapan kebersihan dan kesehatan menstruasi di sekolah, yang menjadi faktor penting agar siswi tidak tertinggal pelajaran akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Selain bantuan fisik, program ini juga memperkuat kapasitas sekolah. Manajemen dan tenaga pendidik Tunzanani Primary School mendapatkan pelatihan dukungan kesehatan mental dan psikososial untuk membantu siswa dan guru mengatasi trauma akibat bencana. Aspek pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan menghadapi krisis iklim di masa depan turut menjadi bagian dari pendekatan yang diterapkan.
Wakil Kepala Sekolah Tunzanani Primary School, Peninah Gambo, menilai dukungan tersebut memberikan dampak signifikan bagi keberlangsungan pendidikan di sekolahnya, terutama dalam memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan tanpa gangguan meski berada dalam masa pemulihan.
Krisis kemanusiaan di Kenya masih berlangsung. Jutaan penduduk terdampak kekeringan terparah dalam 40 tahun terakhir, yang kemudian diperparah oleh banjir besar pada awal tahun sebelumnya. Laporan Global Estimates ECW mencatat sekitar 50 persen anak usia sekolah yang terdampak krisis di dunia berada di kawasan Afrika Sub-Sahara, wilayah dengan tantangan paling kompleks dalam pemenuhan hak pendidikan anak.
UNICEF dan para mitranya menegaskan bahwa fokus ke depan tidak hanya pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan. Sekolah-sekolah di daerah rawan bencana diharapkan semakin tangguh dalam menghadapi dampak perubahan iklim, sehingga anak-anak seperti Margaret dan Gabriel dapat terus belajar dan membangun masa depan yang lebih baik.
Di tengah ancaman krisis iklim global, pendidikan dipandang sebagai fondasi utama untuk membangun ketahanan komunitas, membuka peluang, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat. (ris/hdl)


as a preferred source on Google



