Moskow (beritajatim.id) – Pemerintah Rusia menyatakan penolakan tegas terhadap diskusi di Jepang mengenai kemungkinan kepemilikan senjata nuklir. Sikap tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, yang menilai wacana tersebut berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan Asia Timur Laut.
Rudenko menjelaskan bahwa Moskow mencermati perkembangan diskusi di Jepang yang menyentuh kemungkinan perubahan ketentuan konstitusi, khususnya yang berkaitan dengan prinsip non-nuklir yang selama ini menjadi fondasi kebijakan pertahanan negara tersebut. Rusia menilai arah pembahasan tersebut sebagai langkah yang tidak sejalan dengan stabilitas regional.
Menurut Rudenko, peningkatan militerisasi Jepang justru akan memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan. Rusia memandang bahwa setiap upaya yang mengarah pada penguatan persenjataan strategis akan memicu reaksi dari negara-negara yang merasa terancam, sehingga membuka peluang terjadinya langkah balasan yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan regional.
Pernyataan Rusia ini muncul menyusul komentar kontroversial dari seorang pejabat di lingkungan kantor Perdana Menteri Jepang pada awal pekan ini. Pejabat tersebut menyampaikan pandangan bahwa Jepang seharusnya memiliki senjata nuklir, sebuah pernyataan yang bertentangan dengan prinsip non-nuklir yang tertuang dalam konstitusi Jepang pascaperang.
Prinsip non-nuklir Jepang selama ini mencakup tiga komitmen utama, yakni tidak memiliki, tidak memproduksi, dan tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayahnya. Prinsip tersebut menjadi simbol sikap Jepang terhadap perlucutan senjata dan perdamaian internasional sejak Perang Dunia II.
Penolakan Rusia menegaskan kekhawatiran bahwa perubahan kebijakan nuklir Jepang tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan keamanan di Asia Timur Laut yang melibatkan sejumlah kekuatan besar dunia. Situasi ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan dalam dinamika geopolitik kawasan ke depan. (ris)


as a preferred source on Google



