Beirut (beritajatim.id) – Ketegangan antara Israel dan Hizbullah kembali meningkat setelah pemerintah Israel memerintahkan perluasan operasi militer hingga ke wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz pada Senin (1/6/2026).
Dalam pernyataan itu, pemerintah Israel menyebut langkah militer diambil sebagai respons atas serangkaian dugaan pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Hizbullah. Kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon tersebut dituduh terus melancarkan serangan roket dan drone yang mengarah ke sejumlah wilayah di bagian utara Israel.
Perintah serangan ke kawasan selatan Beirut menandai eskalasi terbaru dalam konflik lintas perbatasan yang selama beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap potensi meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.
Laporan media Israel menyebutkan bahwa perluasan operasi militer tersebut dilakukan setelah pemerintah Amerika Serikat memberikan persetujuan atas permintaan Israel untuk meningkatkan aktivitas militernya di Lebanon. Jika sebelumnya fokus operasi lebih banyak diarahkan ke wilayah selatan Lebanon yang berbatasan langsung dengan Israel, kini sasaran operasi diperluas hingga mencakup ibu kota Lebanon.
Situasi keamanan semakin memanas setelah seorang prajurit Israel dari satuan komando elite dilaporkan tewas dalam serangan drone bermuatan peledak yang disebut diluncurkan oleh Hizbullah di wilayah selatan Lebanon. Selain korban tewas, tiga personel militer Israel lainnya mengalami luka-luka, termasuk satu prajurit yang dilaporkan dalam kondisi serius setelah insiden di Desa Yohmor.
Militer Israel menyatakan bahwa sepanjang Senin pagi, sejumlah roket dan drone kembali diluncurkan dari wilayah Lebanon menuju kawasan utara Israel. Sebagian proyektil berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, sementara beberapa lainnya jatuh di area terbuka tanpa menimbulkan korban jiwa.
Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menghancurkan lokasi peluncuran roket yang digunakan Hizbullah untuk menyerang wilayah Tiberias pada Minggu malam. Kota yang berada di bagian timur laut Israel tersebut dilaporkan tidak mengalami korban akibat serangan tersebut.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan rapuhnya upaya menjaga gencatan senjata yang selama ini menjadi dasar meredam konflik antara Israel dan Hizbullah. Meningkatnya intensitas serangan dan balasan dari kedua pihak juga memunculkan kekhawatiran akan terjadinya eskalasi yang lebih luas, terutama jika operasi militer Israel terus diperluas hingga wilayah strategis di Beirut.
Hingga saat ini belum ada laporan resmi dari otoritas Lebanon maupun pernyataan terbaru dari Hizbullah terkait keputusan Israel memperluas serangan ke ibu kota Lebanon. Namun situasi di perbatasan Israel-Lebanon masih menjadi salah satu titik konflik paling sensitif di kawasan Timur Tengah yang terus dipantau dunia internasional. (hdl)


as a preferred source on Google



