Mojokerto (beritajatim.id) – Pasca pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemerintah Kota Mojokerto langsung bergerak cepat membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana.
Bertempat di Sentra IKM Batik Maja Barama Wastra, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari membuka dialog interaktif bersama insan media bertema “Penanganan Bencana dan Peran Media Pasca Terbentuknya BPBD”.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita menegaskan bahwa pembentukan BPBD bukan berarti mengundang bencana, melainkan bagian dari kewajiban membangun budaya siap siaga dan waspada di tengah masyarakat.
“Semangatnya bukan karena ada BPBD lalu harus ada bencana yang ditangani. Kita tetap berupaya agar jangan sampai ada bencana. Tapi kesiapsiagaan adalah kewajiban, bukan pilihan,” tegas Ning Ita.
Edukasi Sejak Dini Jadi Prioritas
Lebih jauh, Ning Ita menyampaikan pentingnya edukasi kesiapsiagaan yang dimulai sejak usia dini. Edukasi tersebut kini bahkan diarahkan kepada anak-anak usia taman kanak-kanak (TK), guna membangun kesadaran risiko bencana sejak awal.
“Kita tidak pernah berharap bencana terjadi lagi, cukup tahun 2024 jadi pelajaran. Apa yang bisa dicegah melalui perencanaan dan pembangunan, itu jauh lebih baik,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa dampak bencana tidak hanya bersifat fisik, tapi juga psikologis, khususnya bagi anak-anak. Maka dari itu, pendekatan preventif menjadi prioritas utama pemerintah kota.
Peran Media dalam Mitigasi dan Informasi Publik
Dalam dialog tersebut, Ning Ita mengajak insan media untuk turut berperan dalam menyebarluaskan informasi yang benar, berimbang, dan edukatif terkait penanggulangan bencana. Menurutnya, media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga mitra penting dalam menjaga kondusivitas kota.
“Teman-teman media harus ikut menjaga suasana tetap damai. Jangan sampai berita justru memicu keresahan. Kalau kota ini damai, semua bisa lebih mudah kita hadapi,” ujarnya.
Sinergi untuk Kota Aman dan Tangguh
Pembentukan BPBD Mojokerto menjadi langkah strategis dalam memperkuat resiliensi kota terhadap ancaman bencana. Namun, kata Ning Ita, hal ini hanya bisa tercapai jika ada sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat.
“Kami ingin setiap program pemerintah bisa sampai ke masyarakat secara faktual dan proporsional. Media punya peran penting mewujudkan itu,” tegasnya.
Dengan hadirnya BPBD, Kota Mojokerto menegaskan komitmen untuk tidak hanya merespons bencana, tetapi juga mencegah dan mempersiapkan diri jauh sebelum bencana terjadi. Upaya ini diharapkan mampu menjadikan Mojokerto sebagai kota tangguh bencana, dengan masyarakat yang teredukasi dan siap menghadapi segala risiko. (tin)


as a preferred source on Google




