Jakarta (beritajatim.id) – Global Anti Scam Alliance (GASA) meluncurkan laporan ‘State of Scams in Indonesia 2025’ yang mengungkap fakta mencengangkan: dua dari tiga orang dewasa di Indonesia (66 persen) mengalami penipuan digital dalam setahun terakhir. Total kerugian finansial yang ditanggung masyarakat mencapai Rp49 triliun (setara US$3,3 miliar).
Laporan yang diluncurkan bertepatan dengan semangat Hari Sumpah Pemuda ini merupakan inisiatif bersama Mastercard dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH).
Temuan ini menegaskan bahwa penipuan digital telah menjadi ancaman sistemik yang mengikis kepercayaan konsumen dan mengganggu pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Temuan Kunci: Paparan dan Kerugian yang Masif
Laporan GASA 2025 memetakan lanskap penipuan digital Indonesia dengan sejumlah temuan kritis:
- Paparan Tinggi: Rata-rata setiap orang di Indonesia terpapar 55 kali upaya penipuan dalam setahun.
- Korban dan Kerugian: Sebanyak 35 persen responden berhasil menjadi korban penipuan, dan 14 persen di antaranya mengalami kerugian finansial langsung dengan nilai rata-rata Rp1,7 juta per orang.
- Modus Dominan: Platform pesan langsung, seperti aplikasi pesan instan dan SMS, menjadi saluran paling banyak digunakan pelaku penipuan.
- Ekspektasi Publik: Sebanyak 34 persen masyarakat menilai pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam melindungi publik dari penipuan digital.
Seruan Kolaborasi Lintas Sektor
Peluncuran laporan ini merupakan langkah konkret setelah pembentukan GASA Indonesia Chapter pada Juli 2025 lalu, yang menekankan kolaborasi sebagai kunci melawan penipuan.
Reski Damayanti, Ketua GASA Indonesia Chapter dan Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan, “Untuk melindungi publik dan memulihkan kepercayaan, Indonesia perlu memperkuat sistem pencegahan penipuan dengan teknologi canggih seperti AI, didukung kemitraan kuat dan regulasi yang jelas.”
Senada dengan hal tersebut, Aileen Goh, Country Manager Mastercard Indonesia dan Wakil Ketua GASA Indonesia Chapter, menegaskan pentingnya aksi kolektif. “Di Mastercard, kami percaya bahwa kepercayaan adalah fondasi ekonomi digital yang inklusif. Untuk menjaga kepercayaan ini, dibutuhkan lebih dari sekadar teknologi, yaitu aksi kolektif,” ujarnya.
Tiga Pilar Rekomendasi Strategis
Laporan ini tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga merumuskan 10 rekomendasi aksi yang terbagi dalam tiga pilar utama:
- Memberdayakan Konsumen: Melalui edukasi berkelanjutan, layanan bantuan nasional, dan dukungan terpadu bagi korban.
- Mewujudkan Internet yang Lebih Aman: Dengan pemblokiran penipuan di tingkat jaringan dan peningkatan kemampuan penelusuran transaksi penipuan.
- Memperkuat Kerja Sama Lintas Sektor: Melalui pembentukan jaringan pusat anti-penipuan, kejelasan tanggung jawab penyedia layanan, dan kolaborasi global dalam penegakan hukum.
Putri Alam, Government Affairs and Public Policy Director Google Indonesia, yang memimpin Komite Edukasi dan Kesadaran GASA, menyoroti komitmennya. “Kami berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat Indonesia agar dapat menjelajahi dunia digital dengan aman dan percaya diri,” tuturnya.
Brian D. Hanley, GASA APAC Director, mengingatkan dampak kemanusiaan dari penipuan ini. “Setiap kasus penipuan di Indonesia memiliki wajah manusia di baliknya… Penipuan tidak hanya mengambil uang, tetapi juga kepercayaan antar manusia.”
Rekomendasi dalam laporan ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi semua pemangku kepentingan untuk membangun kepercayaan digital dan mendukung visi Indonesia Emas 2045.
Metodologi
Laporan ‘State of Scams in Indonesia 2025’ didasarkan pada survei daring terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di seluruh Indonesia, yang dilakukan antara 26 Februari hingga 14 Maret 2025. Sampel disesuaikan untuk mewakili populasi nasional orang dewasa di Indonesia. GASA Indonesia Chapter merupakan bab kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. (ris)


as a preferred source on Google




