Malang (beritajatim.id) – Tak hanya mantan Wakil Presiden RI, M Jusuf Kalla (JK) yang memberikan pembekalan kepada mahasiswa baru (Maba) Universitas Brawijaya (UB) Malang. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD dan Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) Kejagung Dr. Rudi Margono, S.H., M.Hum juga ikut memberikan pembekalan kepada maba UB.
Mengutip website UB Malang, Selasa (12/8/2025), dalam rangkaian acara Rangkaian Jelajah Almamater Brawijaya (RAJA Brawijaya) dalam Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Brawijaya (UB) 2025, Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud MDm S.H., S.U., M.I.P turut sebagai pembicara.
Dalam paparannya, Mahfud MD menyatakan, Indonesia akan mencapai Indonesia Emas 2045 yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, di mana pemimpinnya nanti adalah para mahasiswa baru yang hadir saat ini.
Dia juga menyampaikan, mahasiswa perlu bekerja keras dan memiliki semangat belajar yang tinggi untuk menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045. “Tak ada orang sukses tanpa bekerja keras, dan tidak akan terhormat jika kamu mendahulukan rasa takut dan malas, kita punya segala sumber daya geografi maupun demografi, ini menunjukkan kehebatan indonesia. Maka dari itu, kalian inilah yang akan meneruskan estafet kepemimpinan Indonesia,” kata Mahfud.
Tak lupa Mahfud mengajak mahasiswa baru ikut serta dalam penegakan hukum dan keadilan di Indonesia. “Hukum bukan hanya ditegakkan mahasiswa Fakultas Hukum, tapi semua masyarakat harus terlibat. Hukum itu ada di hati dan nurani, ketidakadilan itu pasti akan dirasakan oleh hati nurani kalian,” tambahnya.
Sementara itu, Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan Kejagung RI, Dr. Rudi Margono, S.H., M.Hum menguraikan tentang kinerja kejaksaan belakangan ini dalam konteks penegakan hukum di Indonesia. “Banyak sekali kasus yang telah ditangani oleh kejaksaan. Kasus-kasus tersebut sepeti ilegal logging, korupsi, hingga kejahatan ekonomi,” katanya.
Rudi mengajak mahasiswa baru yang empat tahun ke depan akan lulus, agar dapat selalu mengingat nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan negara. “Tuhan memberikan kecerdasan intelektual. Maka gunakan untuk kegiatan positif seperti penelitian dan pengabdian,” ingatnya.
Rudi menceritakan kembali pengalamannya sebagai mahasiswa sarjana dan doktoral di UB Malang. Modal IPK 4.00 saja tidak cukup. Ia mengajak agar mahasiswa turut aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan perlombaan. “Apapun latar belakang fakultas yang diambil, bukanlah menjadi persoalan. Apapun peran kita nanti, kita harus membangun dan menciptakan tujuan bernegara sebagaimana alinea keempat UUD 1945,” katanya mengingatkan. (air)


as a preferred source on Google



