Jombang (beritajatim.id) – Ini bukan sepakbola biasa. Bukan hanya tentang gol atau strategi, namun tentang kebersamaan dan gelak tawa yang terpatri dalam setiap langkah di lapangan.
Bayangkan para pemain yang berlari di atas rumput hijau, mengenakan sarung, sepatu olahraga, dan kaus tim yang mencolok—warna oranye untuk wartawan dan hijau muda untuk polisi. Begitulah suasana pertandingan sepakbola yang digelar di Polres Jombang, Selasa (12/8/2025), antara tim wartawan PWI Jombang dan Polres Jombang.
Pertandingan ini jelas bukan pertandingan sepakbola pada umumnya. Dengan sarung yang melilit tubuh para pemain, gerakan yang seharusnya penuh ketepatan malah sering berubah menjadi aksi lucu yang mengocok perut.
Para pemain terjatuh, sarung lepas, dan meski terbatas oleh pakaian yang tidak lazim untuk sepakbola, mereka tetap berusaha menyuguhkan aksi-aksi memukau—sebuah pemandangan yang membangkitkan tawa, namun juga rasa hormat terhadap semangat mereka.
Wartawan PWI Jombang mengenakan kaus oranye yang cerah, sementara tim polisi mengenakan kaus hijau muda menyala. Di tim Polres, bahkan Kapolres Jombang, AKBP Ardi Kurniawan, ikut terjun langsung ke lapangan.
Momen ini terasa seperti paradoks, ketika mereka yang biasa berdiri formal di belakang meja kini berada di lapangan yang sama, berlari mengejar bola, dan menikmati setiap detik pertandingan.
Suasana di lapangan semakin semarak saat wasit tiba-tiba menghentikan pertandingan dan memutar musik. Tanpa aba-aba, para pemain—wartawan dan polisi—terjun ke tengah lapangan, berjoget bersama.
Tawa pun pecah, menghapus sekat antara peran mereka yang biasanya serius. Hari itu, tidak ada lagi perbedaan antara wartawan dan polisi; yang ada hanya kebersamaan, tawa, dan semangat kemerdekaan.

“Biasanya kami berdiri dengan seragam dinas, hari ini justru berhadapan langsung di lapangan dengan rekan-rekan media yang biasa mewawancarai kami,” ujar Kapolres AKBP Ardi Kurniawan setelah pertandingan.
Meski timnya berhasil menang dengan skor tipis 1-0, Kapolres menekankan bahwa kemenangan bukanlah tujuan utama. Kegiatan ini, lebih dari sekadar pertandingan, adalah sarana untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antara polisi, wartawan, dan masyarakat.
Sebuah pengingat bahwa dalam merayakan kemerdekaan, yang lebih penting adalah semangat kebersamaan dan nasionalisme.
Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, juga mengapresiasi acara ini. “Biasanya kita hanya bertemu dalam situasi formal dan liputan. Tapi hari ini kami bisa berinteraksi secara lebih santai dan guyub,” ujarnya sambil tertawa.

Menurutnya, sepakbola sarung ini lebih dari sekadar permainan; ini adalah simbol solidaritas. Di balik tawa dan peluh, tumbuh semangat kebersamaan.
Acara ini menyatukan wartawan, polisi, dalam satu lapangan yang penuh canda tawa. Tidak ada yang lebih menggugah daripada melihat mereka berdiri bersama dalam suasana yang penuh semangat kemerdekaan.
Bukan hanya soal bola atau kemenangan, tetapi tentang bagaimana sebuah komunitas bisa tumbuh lebih kuat ketika mereka saling memahami, bekerja sama, dan tentu saja, tertawa bersama. [yus]


as a preferred source on Google




