Tel Aviv (beritajatim.id) – Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memperingatkan bahwa Israel akan melanjutkan operasi militer jika kelompok bersenjata Hamas tidak memenuhi kewajiban demiliterisasi dan tidak mengembalikan seluruh jenazah tawanan yang masih mereka pegang.
Pernyataan dari kantor Katz disampaikan setelah Hamas menyerahkan jenazah dua tahanan lagi. Kelompok bersenjata itu mengatakan tidak bisa mengambil jenazah lainnya dari reruntuhan di Gaza tanpa peralatan khusus.
Sejak perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden AS Donald Trump, Hamas telah menyerahkan 20 tahanan hidup ke pihak Israel sebagai bagian dari pertukaran hampir 2.000 tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara Israel.
Sebelum penyerahan dua jenazah yang berlangsung pada Rabu malam, Hamas sebelumnya telah menyerahkan jenazah tujuh dari 28 jenazah tahanan yang diketahui; ada juga satu jenazah kedelapan yang menurut Israel bukanlah jenazah mantan tahanan.
“Jika Hamas menolak mematuhi kesepakatan, Israel, berkoordinasi dengan Amerika Serikat, akan melanjutkan pertempuran dan bertindak untuk mencapai kekalahan total Hamas, mengubah realitas di Gaza, dan mencapai semua tujuan perang,” bunyi pernyataan dari kantor Israel Katz.
Katz juga memerintahkan staf militer dan perwira tinggi untuk menyiapkan “rencana komprehensif untuk mengalahkan Hamas” jika Israel memutuskan melanjutkan kampanye militernya. Ia menegaskan rencana itu disiapkan jika Hamas menolak melaksanakan rencana Presiden Trump dan pertempuran harus diperbaharui.
Hamas: Jenazah yang Diserahkan adalah Batas Kemampuan Saat Ini
Sayap militer Hamas, Ezzedine Al-Qassam Brigades, menyatakan dua jenazah yang diserahkan menjadi yang terakhir untuk saat ini, dan menegaskan pihaknya telah memenuhi kewajiban menyerahkan tahanan hidup serta jenazah yang bisa diakses.
Menurut pernyataan kelompok itu lewat media sosial, pengambilan jenazah yang tersisa membutuhkan upaya besar dan peralatan khusus untuk penarikan dari reruntuhan, dan pihaknya sedang berusaha keras untuk menutup “file” tersebut.
Perkembangan ini menambah tekanan domestik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, terutama dari kalangan pemerintahan sayap kanan. Menteri Keamanan Nasional yang berpandangan keras, Itamar Ben Gvir, pernah mengancam akan memotong pasokan bantuan kemanusiaan ke Gaza apabila Hamas tidak segera mengembalikan jenazah tentara Israel yang masih ditahan.
Isu Kemanusiaan: Pengembalian Jenazah Palestina dan Pembatasan Bantuan
Sementara itu, otoritas kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan bahwa Israel memulangkan 45 jenazah Palestina lagi yang berada di dalam tahanan Israel ke Rumah Sakit Nasser di Gaza selatan, sehingga jumlah jenazah Palestina yang dikembalikan mencapai 90.
Dalam kerangka rencana pertukaran yang diinisiasi Trump, disebutkan Israel akan mengembalikan 15 jenazah Palestina untuk setiap satu jenazah Israel yang diserahkan.
Namun pada sisi bantuan kemanusiaan, Israel mengumumkan pengurangan setengah jumlah truk bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza — sekitar 300 truk lebih sedikit — dengan alasan kegagalan Hamas menyerahkan seluruh jenazah. Langkah ini menuai kecaman dan kekhawatiran dari badan-badan kemanusiaan.
Kepala urusan kemanusiaan PBB untuk kasus darurat, Tom Fletcher, meminta Israel untuk segera membuka semua pos lintas perbatasan menuju Gaza demi kelancaran bantuan. Fletcher juga direncanakan menuju perbatasan Rafah, satu-satunya titik yang menghubungkan Gaza ke dunia tanpa lewat Israel, untuk menilai situasi lapangan.
“Ujiannya adalah anak-anak mendapat makanan, rumah sakit mendapat anestesi untuk perawatan, dan keluarga memiliki tenda untuk berteduh,” ujar Fletcher.
Laporan juga menyebutkan adanya dugaan pelanggaran perjanjian di lapangan. Badan pertahanan sipil Gaza menyatakan tiga warga Palestina tewas akibat tembakan Israel, termasuk dua warga yang mencoba kembali ke rumah mereka di kawasan Shujaiya, Gaza City. Sementara militer Israel menyatakan pihaknya menindak beberapa orang yang menurutnya melanggar “yellow line” yang ditetapkan oleh kesepakatan gencatan senjata.
Permasalahan Mendasar: Disarmament dan Kondisi Kemanusiaan
Salah satu poin paling rumit dalam setiap pembicaraan adalah tuntutan dilucuti persenjataan Hamas — tuntutan yang sejauh ini ditolak keras oleh kelompok tersebut. Di sisi lain, krisis kemanusiaan yang makin parah di Gaza sejak serangan Hamas 7 Oktober 2023 tetap menjadi perhatian internasional; pada akhir Agustus lalu PBB pernah menyatakan kondisi kelaparan di wilayah itu, meski klaim tersebut sempat dibantah oleh Israel.
Di Gedung Putih, Presiden Trump menegaskan kepada publik bahwa jika Hamas menolak dilucuti persenjataan, “kami akan melucuti mereka,” sambil mengisyaratkan tindakan yang cepat dan mungkin keras jika diperlukan. (hdl)


as a preferred source on Google



