Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena kuliner keliling dengan konsep mobile semakin marak di kota-kota besar Indonesia, termasuk Surabaya.
Belakangan, publik di media sosial dihebohkan dengan viralnya nasi Padang keliling, yang mengingatkan pada tren kopi keliling yang lebih dulu populer.
Meski dianggap tren baru, praktik kuliner keliling sejatinya memiliki akar historis yang panjang. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair), Prof Dra Rachmah Ida MCom PhD, yang menilai bahwa konsep ini bukan sekadar inovasi bisnis, tetapi juga representasi budaya.
Bukan Tren Baru, Melainkan Evolusi
Prof Rachmah menjelaskan bahwa kuliner mobile atau yang kini populer disebut food truck awalnya hadir untuk memenuhi kebutuhan pekerja di lokasi terpencil yang sulit mengakses tempat makan.
“Konsep ini bagian dari strategi menjemput target market. Banyak pekerja yang tidak bisa mobile dan di lokasi kerjanya tidak ada warung, sehingga hadir food truck untuk menjangkau mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, fenomena kuliner keliling sebenarnya bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Di Indonesia, masyarakat sudah akrab dengan pedagang bakso keliling, tahu tek, atau tahu campur. Perbedaannya, kini pedagang tersebut menggunakan kendaraan modern sebagai sarana berjualan.
Efisiensi Biaya dan Peluang Bisnis
Selain menawarkan kepraktisan bagi konsumen, food truck juga memberikan keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha. Menurut Prof Rachmah, biaya operasional yang rendah menjadi keunggulan utama.
“Bagi pengusaha, food truck relatif murah. Mereka tidak terbebani pajak bangunan seperti restoran konvensional, sehingga pendapatan lebih efisien,” jelasnya.
Media Sosial sebagai Motor Penggerak
Lebih jauh, Prof Rachmah menekankan bahwa perkembangan pesat tren ini tidak lepas dari peran media sosial. Platform digital mampu menciptakan euforia instan dan mendatangkan massa dalam waktu singkat, terutama melalui konten kreator yang memviralkan pedagang tertentu.
“Media sosial itu luar biasa. Ia mampu membangkitkan kembali fenomena food truck dan bahkan menciptakan subkultur baru di kalangan konsumen Indonesia,” tuturnya.
Dengan perpaduan inovasi bisnis, efisiensi biaya, dan dukungan media sosial, tren kuliner keliling diyakini akan terus berkembang dan menjadi bagian penting dari dinamika budaya kuliner Indonesia. (rio)


as a preferred source on Google




