Surabaya (beritajatim.id) – Kebijakan pembatasan penggunaan gawai di lingkungan sekolah yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mulai menunjukkan hasil positif. Sejumlah sekolah menilai aturan tersebut mampu meningkatkan fokus belajar, memperkuat interaksi sosial antarsiswa, serta memudahkan pengawasan selama kegiatan belajar mengajar.
Salah satu sekolah yang merasakan dampak signifikan adalah SMPK St. Vincentius Surabaya. Kepala sekolah, Maria Widawati, menyampaikan bahwa pembatasan penggunaan handphone telah disosialisasikan sejak awal tahun 2026 sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Wali Kota Surabaya.
Menurut Maria, sebelum aturan diberlakukan, sebagian besar siswa cenderung menghabiskan waktu dengan gawai, baik untuk bermain gim daring maupun mengakses media sosial, terutama saat jam istirahat atau sebelum pelajaran dimulai. Kondisi tersebut dinilai mengurangi interaksi langsung antarsiswa.
Namun, setelah kebijakan pembatasan diterapkan dan gawai dikumpulkan selama jam sekolah, suasana di lingkungan sekolah mengalami perubahan. Aktivitas komunikasi tatap muka meningkat, siswa lebih aktif berinteraksi dengan teman sebaya, serta terlihat lebih siap mengikuti proses pembelajaran di kelas.
Maria menegaskan pihak sekolah akan terus konsisten menjalankan kebijakan tersebut karena manfaatnya dirasakan langsung terhadap perkembangan sosial dan akademik siswa. Selain itu, keberadaan Surat Edaran Wali Kota dinilai memberikan dasar yang kuat bagi sekolah untuk bersikap tegas dalam menegakkan aturan tanpa menimbulkan polemik dengan orang tua maupun peserta didik.
Kebijakan pembatasan gawai ini juga mendapat penegasan langsung dari Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Ia menekankan bahwa aturan tersebut bukan bentuk pelarangan total terhadap teknologi, melainkan pengaturan penggunaan agar tidak mengganggu konsentrasi belajar di sekolah.
Eri menjelaskan, esensi pendidikan terletak pada interaksi, komunikasi, dan pembentukan karakter. Oleh karena itu, suasana belajar yang minim distraksi digital dinilai mampu menciptakan lingkungan kelas yang lebih kondusif. Dampaknya, siswa menjadi lebih fokus, aktif berdiskusi, serta membangun kedekatan dengan guru dan teman.
Ia juga mencontohkan perubahan perilaku siswa di SMPK St. Vincentius Surabaya, di mana aktivitas bermain gawai sebelum pelajaran kini berganti dengan percakapan dan interaksi sosial yang lebih sehat.
Selain siswa, Eri mengingatkan pentingnya peran guru sebagai teladan. Guru diharapkan turut membatasi penggunaan gawai saat proses pembelajaran berlangsung agar nilai disiplin dan konsistensi dapat diterapkan secara menyeluruh.
Sebagai informasi, Pemkot Surabaya sebelumnya telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.2.4/34733/436.7.8/2025 tentang Penggunaan Gawai dan Internet untuk Anak di Kota Surabaya. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan prestasi belajar, menumbuhkan kedisiplinan, serta melindungi anak dari dampak negatif perkembangan teknologi informasi. (rio)


as a preferred source on Google



