Jakarta (beritajatim.id) – Upaya memperkuat ketahanan energi nasional terus digencarkan oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui percepatan pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga energi.
Komitmen tersebut disampaikan oleh Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, dalam forum internasional Offshore Technology Conference Asia 2026 yang berlangsung di Kuala Lumpur. Forum tersebut menjadi ajang strategis untuk membahas percepatan pengembangan lapangan migas di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Dalam paparannya, Mery menekankan bahwa percepatan pengembangan lapangan migas merupakan langkah penting untuk menjaga keberlanjutan produksi nasional sekaligus memenuhi kebutuhan energi domestik yang terus meningkat. PHE saat ini mengelola 20 cekungan migas dengan total produksi sekitar 1 juta barel setara minyak per hari, memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi minyak dan gas nasional.
Namun, di balik capaian tersebut, PHE menghadapi sejumlah tantangan besar. Tingkat penurunan produksi alami atau decline rate tercatat cukup tinggi, yakni sekitar 24 persen untuk minyak dan 21 persen untuk gas. Selain itu, mayoritas aset yang dikelola telah berusia lebih dari 30 tahun, sehingga memerlukan perhatian serius terhadap aspek keandalan dan keberlanjutan operasional.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya biaya operasional, terutama karena sebagian besar lapangan berada pada tahap akhir pengembangan. Untuk meningkatkan produksi, PHE harus mengandalkan metode seperti enhanced oil recovery (EOR), termasuk steamflood dan chemical oil recovery, yang membutuhkan investasi besar serta dukungan infrastruktur energi yang andal.
Tantangan lain muncul dari pengelolaan lapangan gas yang berada di wilayah terpencil atau stranded. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, PHE mengkaji penerapan teknologi seperti gas to liquid (GTL) dan mini LNG guna meningkatkan keekonomian proyek.
Dalam menjawab berbagai tantangan tersebut, PHE menjalankan sejumlah strategi utama, di antaranya percepatan pematangan proyek sejak tahap awal eksplorasi dengan melibatkan tim pengembangan secara terintegrasi. Selain itu, optimalisasi pengelolaan lapangan marginal juga dilakukan melalui pendekatan efisiensi biaya dan inovasi teknologi.
Perusahaan juga terus mendorong pengembangan teknologi di sektor deepwater, migas nonkonvensional, hingga penerapan chemical enhanced oil recovery (CEOR). Di sisi lain, pengembangan ekosistem carbon capture, utilization, and storage (CCUS) menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung transisi energi yang berkelanjutan.
Tidak hanya fokus di dalam negeri, PHE juga memperluas portofolio global melalui anak usaha PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi yang memiliki aset di berbagai negara seperti Aljazair, Irak, dan Malaysia. Selain itu, PHE juga memperkuat posisinya melalui kepemilikan saham mayoritas di perusahaan migas internasional Maurel & Prom yang beroperasi di Afrika, Amerika, dan Eropa.
Melalui berbagai langkah strategis tersebut, PHE optimistis mampu meningkatkan kinerja operasional sekaligus mendukung target swasembada energi nasional. Penguatan kapasitas organisasi, kemitraan strategis, serta dukungan kebijakan fiskal yang kompetitif menjadi faktor penting dalam mendorong keberhasilan upaya tersebut.
Sejalan dengan prinsip keberlanjutan, PHE juga menegaskan komitmennya terhadap penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG). Perusahaan menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap praktik penyuapan dan memperkuat sistem pencegahan fraud melalui implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan yang mengacu pada standar ISO 37001:2016.
Langkah-langkah ini menegaskan posisi PHE sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga ketahanan energi Indonesia di tengah tantangan global yang terus berkembang. (ren)


as a preferred source on Google




