Jakarta (beritajatim.id) – PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pupuk bagi petani melalui strategi revitalisasi industri pupuk. Langkah ini ditempuh dengan memodernisasi pabrik lama dan membangun pabrik baru demi meningkatkan efisiensi produksi.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa revitalisasi membutuhkan investasi hingga Rp54 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk menggantikan pabrik-pabrik yang sudah berusia tua, sehingga konsumsi energi dapat ditekan dan biaya produksi lebih efisien.
Saat ini, dari 15 pabrik Urea yang dimiliki Pupuk Indonesia, delapan di antaranya telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Kondisi tersebut membuat konsumsi gas mencapai rata-rata 28 MMBTU per ton Urea, bahkan di pabrik tua bisa mencapai 32,2 MMBTU per ton, jauh di atas standar global. Melalui revitalisasi, konsumsi energi ditargetkan turun menjadi 25 MMBTU per ton Urea pada 2035, sehingga harga pupuk dapat lebih terjangkau bagi petani.
Sebagai bagian dari langkah strategis, Pupuk Indonesia tengah membangun Pabrik Pusri IIIB melalui PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri). Pabrik yang ditargetkan selesai pada 2027 ini akan menggantikan fasilitas lama, sekaligus meningkatkan efisiensi konsumsi gas dari 32 MMBTU menjadi 21,7 MMBTU per ton Urea. Efisiensi tersebut diproyeksikan menghemat biaya produksi hingga Rp1,5 triliun per tahun.
Rahmad menegaskan bahwa revitalisasi industri pupuk sejalan dengan arahan pemerintah yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama. Kehadiran pabrik modern diharapkan memastikan pasokan pupuk nasional lebih stabil, sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi secara konsisten. (ren)


as a preferred source on Google




