Jeddah (beritajatim.id) – Mulai musim haji 2026, penyelenggaraan haji Indonesia tak lagi di-handle Kementerian Agama (Kemenag) RI, tapi oleh Badan Penyelenggara Haji (BPH) di bawah pimpinan KH Irfan Yusuf Hasyim.
BPH merupakan lembaga baru yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto dengan harapan kualitas penyelenggaraan dan pelayanan haji jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Padahal Kemenag RI telah puluhan tahun melayani jemaah haji Indonesia. Tentu saja banyak dokumen dan data lain terkait penyelenggaraan haji yang dimiliki Kemenag. Karena itu, dokumen itu mesti dikelola, dirawat dan disimpan dengan baik.
Dalam konteks demikian, Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag menggelar workshop digitalisasi untuk mengalih-mediakan dokumen-dokumen haji di masa lampau. Workshop digelar di Kantor Urusan Haji (KUH) pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi.
Mengutip website Kemenag RI, Selasa (12/8/2024), selama ini dokumen-dokumen tersebut kurang mendapatkan perhatian yang memadai, padahal memuat informasi penting terkait sejarah penyelenggaraan haji yang dikelola pemerintah dari masa ke masa. Dokumen yang didigitalkan mencakup arsip, berkas administrasi hingga catatan tangan sebelum masa penggunaan komputer atau berusia lebih dari 50 tahun.
“Kami telah meninjau gudang penyimpanan dokumen di wilayah Rehab, Jeddah. Terdapat jutaan dokumen yang tertumpuk begitu saja selama bertahun-tahun,” kata Sesditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Arfi Hatim di Jeddah, Senin (11/8/2025).
Digitalisasi ini merupakan upaya penyelamatan terhadap aset negara berupa pengetahuan tentang haji yang tak ternilai harganya. Hasil digitalisasi akan dikelola menjadi data yang dapat dimanfaatkan para pihak berkepentingan, terutama pengambil kebijakan. Sedangkan dokumen asli akan ditata ulang sehingga mudah diakses.
Plt Konsul Haji pada KUH KJRI Jeddah, Zakariya Anshori, menambahkan bahwa selama ini KUH menyimpan semua arsip dan dokumen penyelenggaraan ibadah haji setiap tahun. Hanya saja pengelolaannya belum optimal dan penataannya belum sistematis.
“Workshop digitalisasi ini penting bagi kami sebagai bentuk peningkatan kapasitas dalam pengelolaan dokumen. Selain mendapatkan pelatihan teknis alih media digital, kami memperoleh wawasan tentang penyelamatan aset pengetahuan,” ujarnya. (air)


as a preferred source on Google




