Surabaya (Beritajatim.id) – Generasi Z kini menghadapi tantangan besar di dunia kerja. Persaingan yang semakin ketat, jumlah lowongan yang terbatas, hingga biaya hidup yang terus meningkat membuat banyak anak muda kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Situasi ini mendorong mereka mencari jalur alternatif, yakni side hustle atau pekerjaan sampingan.
Jika dulu side hustle hanya dianggap pekerjaan tambahan untuk menutup kebutuhan sehari-hari, kini tren tersebut berkembang menjadi gaya hidup. Gen Z tidak ingin menggantungkan diri pada satu pekerjaan saja. Mereka memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menciptakan peluang.
Dari berjualan di TikTok Shop, menawarkan jasa desain grafis di platform freelance, hingga menjadi content creator di YouTube, semua bisa dilakukan hanya dengan modal ponsel dan internet. Side hustle menjadi cara untuk mendapatkan penghasilan sekaligus sarana menyalurkan kreativitas dan passion.
Gen Z dikenal tidak sabaran dalam menunggu kesempatan. Alih-alih menanti panggilan kerja yang tidak pasti, mereka memilih untuk bergerak cepat.
Budaya “anti nunggu” inilah yang membuat side hustle semakin berkembang. Anak muda memilih membangun toko online kecil, membuat konten yang bisa dimonetisasi, hingga mencoba berbagai peluang digital. Prinsipnya sederhana: lebih baik mencoba daripada menunggu.
Meski menjanjikan, side hustle tidak bebas risiko. Fenomena hustle culture membuat sebagian anak muda bekerja tanpa henti. Mereka harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan utama, dan sampingan. Tidak sedikit yang akhirnya kelelahan atau burnout.
Masalah lain yang sering muncul adalah pengelolaan keuangan. Banyak Gen Z yang mencampuradukkan penghasilan pribadi dengan usaha, sehingga sulit mengukur keuntungan. Padahal, tanpa pencatatan yang jelas, side hustle sulit berkembang menjadi bisnis jangka panjang.
Bagi Gen Z yang ingin menjadikan side hustle lebih dari sekadar tren, berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
1. Kenali Keahlian dan Passion
Jangan asal ikut-ikutan. Mulailah dari keterampilan yang benar-benar dikuasai atau hobi yang disukai. Passion yang sesuai membuat side hustle lebih konsisten dan bertahan lama.
2. Mulai dari Skala Kecil dan Uji Pasar
Tidak perlu langsung mengeluarkan modal besar. Manfaatkan platform gratis untuk mencoba ide. Jual produk dalam jumlah terbatas atau tawarkan jasa sederhana untuk mengukur respons pasar. Dari uji coba ini, bisa terlihat apakah peluang tersebut layak dikembangkan.
3. Atur Waktu dengan Bijak
Side hustle tidak boleh mengorbankan kesehatan dan kehidupan sosial. Gunakan teknik manajemen waktu seperti time blocking agar aktivitas utama tetap berjalan, sambil memberi ruang khusus untuk usaha sampingan.
4. Bangun Branding Online yang Kuat
Media sosial adalah etalase utama anak muda. Buat portofolio digital, tampilkan karya atau produk, dan gunakan testimoni untuk meningkatkan kepercayaan. Branding yang konsisten akan membuat side hustle terlihat lebih profesional.
5. Kelola Keuangan dengan Disiplin
Pisahkan rekening pribadi dengan rekening usaha. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran agar arus kas jelas. Jika usaha semakin berkembang, daftarkan secara resmi agar terlindungi secara hukum dan lebih mudah memperluas pasar.
Fenomena side hustle mencerminkan kemampuan Gen Z beradaptasi dengan kondisi sosial dan ekonomi yang menantang. Apa yang dulu dianggap “sampingan” kini bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian finansial.
Bagi generasi muda, side hustle bukan hanya cara untuk bertahan di tengah sulitnya mencari kerja tetap, melainkan juga jalan menuju kebebasan finansial dan ruang berekspresi di era digital.


as a preferred source on Google




