Surabaya (beritajatim.id) – Kesempatan mengikuti Ujian Mandiri Universitas Airlangga (UNAIR) dimanfaatkan banyak calon mahasiswa untuk memperjuangkan kampus impian. Bagi Aleyya Intan Adonia Cinara, siswi asal Surakarta, seleksi tersebut bukan sekadar jalur alternatif, melainkan langkah terakhir untuk mewujudkan cita-cita menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR.
Lulusan SMA Negeri 1 Surakarta itu bahkan rela mengesampingkan kursi kuliah yang telah berhasil diraihnya melalui jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di program studi kedokteran gigi pada perguruan tinggi lain. Baginya, kesempatan belajar di FK UNAIR memiliki nilai yang lebih besar karena telah menjadi impian yang dibangun sejak masa kanak-kanak.
Demi mengikuti seleksi mandiri, Aleyya datang ke Surabaya didampingi kedua orang tuanya. Perjalanan tersebut menjadi simbol besarnya dukungan keluarga terhadap pilihan pendidikan yang ingin ditempuh putrinya.
Aleyya mengungkapkan bahwa Fakultas Kedokteran UNAIR telah lama menjadi tujuan utamanya. Saat mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), ia memang memperoleh kelulusan di pilihan kedua. Namun, karena telah mendaftarkan diri pada jalur mandiri UNAIR, ia tetap memilih melanjutkan perjuangan untuk mengejar kampus impiannya.
Keinginan berkuliah di FK UNAIR tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak kecil, setiap kali berkunjung ke Surabaya bersama keluarga, kedua orang tuanya kerap memperkenalkan gedung Fakultas Kedokteran UNAIR serta menceritakan reputasinya sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia.
Cerita-cerita itulah yang perlahan membentuk cita-citanya. Ketika mulai mantap memilih profesi dokter sebagai masa depan, tujuan yang ingin dicapai pun langsung tertuju pada Fakultas Kedokteran UNAIR.
Menurut Aleyya, reputasi FK UNAIR sebagai salah satu fakultas kedokteran tertua dan memiliki rekam jejak akademik yang kuat semakin menguatkan tekadnya. Dukungan penuh dari keluarga juga menjadi modal penting dalam menjalani setiap tahapan seleksi.
Ia menuturkan bahwa kedua orang tuanya selalu memberikan kebebasan untuk menentukan pilihan pendidikan sekaligus mendampingi setiap proses yang dijalani. Dukungan tersebut membuatnya semakin yakin untuk memperjuangkan cita-cita meski harus mengorbankan kesempatan yang sudah berada di tangan.
Tekad Aleyya juga tidak berhenti apabila hasil seleksi tahun ini belum sesuai harapan. Ia telah menyiapkan rencana untuk kembali mengikuti proses penerimaan mahasiswa baru di UNAIR pada tahun berikutnya. Baginya, impian menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR layak diperjuangkan meski membutuhkan lebih dari satu kesempatan.
Kisah Aleyya menjadi potret semangat banyak calon mahasiswa Indonesia yang berani mengambil keputusan besar demi mengejar cita-cita. Di tengah peluang yang telah tersedia melalui jalur lain, ia memilih tetap fokus pada tujuan yang diyakini sejak lama, yakni mengenakan jas almamater Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan menapaki jalan menuju profesi dokter melalui kampus impiannya. (aga)


as a preferred source on Google




