Sidoarjo (beritajatim.id) – Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Juanda sepanjang 2025 menunjukkan denyut yang tetap kuat. Sepanjang tahun lalu, bandara kebanggaan Jawa Timur itu melayani sekitar 13,5 juta penumpang dengan total 92 ribu pergerakan pesawat, menegaskan perannya sebagai salah satu simpul transportasi udara tersibuk di Indonesia bagian timur.
Meski tren perjalanan global masih beradaptasi pascapandemi, pergerakan penumpang di Juanda relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. General Manager Bandara Internasional Juanda, Muhammad Tohir, menyebut mayoritas trafik masih didominasi penerbangan domestik.
“Pada tahun 2025, penerbangan domestik mencapai 11,1 juta penumpang dengan sekitar 78 ribu penerbangan. Sementara penerbangan internasional melayani 2,4 juta penumpang dengan 14 ribu flight. Secara keseluruhan, jumlah ini relatif sama dengan tahun 2024,” ujar Tohir.
Tak hanya soal jumlah penumpang, dinamika rute penerbangan juga menjadi sorotan. Sepanjang 2025, Bandara Juanda melayani 43 rute penerbangan, terdiri dari 32 rute domestik dan 11 rute internasional. Angka ini meningkat seiring dibukanya rute-rute baru dan beroperasinya kembali sejumlah jalur yang sempat terhenti.
Beberapa rute baru yang mencuri perhatian adalah Bangkok (DMK), Guangzhou (CAN), Fuzhou (FOC), Tambolaka (TMC), dan Solo (SOC). Sementara itu, rute Banyuwangi, Yogyakarta, Semarang, Samarinda, dan Sumenep kembali beroperasi dan memperluas pilihan perjalanan bagi masyarakat.
Menariknya, rute internasional baru justru menunjukkan respons pasar yang cukup positif. Untuk rute Bangkok (DMK), tercatat sekitar 14 ribu penumpang dengan tingkat keterisian (load factor) 71 persen. Rute Guangzhou (CAN) melayani sekitar 67 ribu penumpang dengan load factor 77 persen, sementara Fuzhou (FOC) mencatat 5 ribu penumpang dengan load factor 65 persen.
“Data ini menunjukkan bahwa pembukaan rute baru mampu menjawab kebutuhan pasar dan memperkuat konektivitas penerbangan dari dan menuju Jawa Timur,” kata Tohir.
Memasuki 2026, Juanda tak hanya fokus pada penambahan rute, tetapi juga penguatan sistem operasional di tengah potensi cuaca ekstrem yang kerap terjadi di awal tahun. Koordinasi lintas instansi terus diperketat, melibatkan Lanudal Juanda, Otoritas Bandara Wilayah III, AirNav Surabaya, BMKG Juanda, maskapai, hingga ground handling.
Langkah mitigasi dilakukan melalui pemantauan cuaca secara real-time, pemeriksaan rutin fasilitas sisi darat dan udara, serta penerapan prosedur operasional standar dalam kondisi cuaca ekstrem. Semua upaya tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan sekaligus kenyamanan penumpang.
“Kami terus membangun kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar konektivitas penerbangan semakin kuat, aman, dan efisien bagi masyarakat,” pungkas Tohir.
Dengan stabilnya jumlah penumpang, bertambahnya rute, dan kesiapan menghadapi tantangan cuaca, Bandara Juanda optimistis tetap menjadi gerbang udara strategis bagi mobilitas generasi muda, pelaku bisnis, hingga wisatawan di Jawa Timur.


as a preferred source on Google




